Translate

Rabu, April 06, 2011

BUKALENG

Rumah terakhir. Deretan rumah berdinding hitam di atas hamparan pebukitan. Tuan rumah yang santun, menerima para tetamu. Penjudi, penyabung, dan pengandok dara, memainkan kartu nasib dan menarik ulur layang-layang kehidupan. Para gembala melepaskan kambing dan kudanya, sambil bermain dam-daman, mengadu serangga hitam yang taringnya tebal. Engkau pelaku utama membawa sepasang dara jantan menjauhi lapangan melintasi tegal dan jurang ke arah utara. Aku yang pegang dara betina mengepakkan sayap memanggil birahi pejantan yang limbung di atas langit terbakar. Rumah terakhir. Rumah para penghuni yang santun menerima siapa saja. Kau juga. Ada nama dan alamat yang tercatat di situ. Nama yang selalu mendekat dan tak terhapus meski hujan pekat. Di tengahnya, jalan menyibak berliku ke rumahmu. Juga jalan ke mata air tempat masa kanak-kanakku menyelam dan merenangi kenakalan. Dibelukar kaktus duri, kita sembunyi menghindar dari sergapan saat main perangperangan. Kaktus berbunga merah. Darah katamu. Darah yang menyimpan merah kenangan dan nyeri perih para penghuni rumah itu. Semerah rindu yang kadang berlepasan dari undakan mata saat kau dan aku tak bisa memendam rasa haru. Rasa terkenang sesuatu pada mereka yang pulang terlebih dahulu.

Hantu. Tak ada di rumah itu. Pada malam-malam ketika menyambut kedatangan bulan yang bersih, kau dan aku meniti di tubir makam mengirimkan surat-surat yang pernah kita simpan dalam laci. Lalu kita panggil nama-nama yang sama berulang-ulang. Nama yang baik, nama yang kuat, nama yang teduh meneduhi malam dan menggetarkan bintang-bintang yang merintih di keheningan. Bintang nanggala membajak malam dari arah tenggara. Dan berguguranlah putik-putik cahaya. Pecahan yang bermuntahan dari jagad raya. Memasuki tubuh-tubuh yang nganga. Memasuki rumah-rumah yang pintu-pintunya terbuka. Menyusupi celah rumah yang pintunya terkunci petang. Rumah-rumah yang menuliskan nama-nama yang terpampang di kepala pintu. Tertulis di atas selembar batu.

2011

Selasa, April 05, 2011

IKAN TERBANG

Di atas hamparan darah matahari merah. Kilau buih tumpah dari gelas minuman yang baru dituang. Denyar jantung dan gelegak ombak saling bergulung di atas perairan lepas sapudi. “tak ada yang tenggelam dalam penyeberangan antara pulau ini,” bisikmu menenangkan jantungku yang bergoyangan dimainkan angin selatan. Laut tersenyum mengurai isi tubuhnya yang karam. Bintang laut, ubur-ubur merah, kakap merah dan kerapu karang mengucap salam. Lalu, si cantik dengan tubuh lentik. Si ikan terbang yang meluncur dari gelap perairan menarikan pasang laut. Lengkung tubuhnya menendang udara, angin pun menghiba. Tubuh kapal yang terbalik terbang menaiki tangga awan. Tangga yang tersusun dari potongan matahari. Si pendekar, penjaga pulau dengan pedang melebar di punggung. Si bongkok yang menjadi raja. Raja laut yang tak pernah takut mengusung badai dan kabut. Dan si bintang laut menguraikan punggung yang berlubang, lili laut yang gemulai menarikan srimpi, memeluk akar bahar. Bintang ular dan bulu babi mengisap getah-getah karang, lendir lokan dan bangkai malang. Mereka terbang menaiki tangga matahari menuju langit pagi. Dari telinga perahu yang kutumpangi bisik-bisik merayap dari rumah siput ke dalam rumah kabut. Darahnya laut, ikan-ikan dan belut, karang-karang dan kerang, cumi dan gurita derita saling menyembur dan berbelit merangkul tubuh pulau yang kian gendut. Cumi dan gurita bersayap, yang di tentakelnya, tentakel yang hitam menerbangkan punggung pulau di atas Gili Yang dan Pulau Manuk, Pagerungan dan Paliat. Terbang meluncur ke celah-celah mata yang berasap. Mata pulau yang belingsat.

TERUNG

Yang ungu adalah tubuhku. Tubuh yang bongkok ditekuk waktu. Di atas kebun biru yang ada di sisi rumah. Di bawah matahari yang cerah. Aku hisap sinarnya di atas tadahan daun yang menjari. Oleh hehijauan yang selalu menyegarkan mataku. Panas yang menghangatkan pelukku, saat embun-embun dan kabut menyusuiku semalaman. Menyembulkan tunas baru, yang akan melanjutkan rangkulku memeluk waktu, membelai rambut angin yang gemulai dan menidurkan matahari siang yang kelelahan. Aku tinggikan bebatang menyusul ketinggian letak rahasia disembunyikan. Aku temukan bintil-bintil kembang menyeruak di ketiak cecabang. Aku tumbuhkan kembang memanggil kekumbang. Di belalainya yang lembut aku rasakan hisapan yang tengah meniupkan sari pejantan. Butir-butir nafas yang berjatuhan satu per satu dalam tadah putik yang lama menunggu. Dalam ruang yang ungu. Setiap angin mengalun kau turun menuruni pembuluh rahim. Detak-decak menggetarkan tanah dan udara. Sehingga serangga pun menggesekkan sayapnya memainkan simponi musim bunga. Kupu-kupu datang mertamu dengan setangkup madu yang dititipkan di lubang pintu. Aku menghirupnya penuh lagu yang menggetarkan ruang-ruang rindu. Di dalam celah yang disekat bibir malu, aku membangun cumbu menghulum sari pati dan putik bulu memanjangkan hayat dan membesarkan tubuh di bawah matahari yang selalu memancar dari sarang madu. Serat daging yang memanjang memendam beribu biji belahan, sebagai persajian di meja perjumpaan.

2011

Minggu, April 03, 2011

JARAN POTE

Jangan pinta kembali apa yang pernah kau beri.Bagai matahari terus mmengulur tak pernah mundur.Sebegitulah pemberian tangan kanan sembunyi dari tangan kiri.Sebagai sebaris riwayat yang pernah didonegngkan sebelum malam sekarat.Janji laut pada ombak pada perahu yang menyeberang bentang selat.Bentang pulau. Jantung kepada darah, senantiasa bergerak memasuki lorong-lorong sunyi tap pernah henti membagi dan berbagi. Sebutir oksigen dan sari glukosa mengembalikan kehidupan.

Jangan cerita kembali apa yang pernah kau beri. Tanah, air dan matahari terus menyuburkan tetumbuhan dalam dagingmu. Daging yang menyimpan doa-doa bagi para sahabat,kerabat dan keluarga. Mengubur haruam lelaku yang pernah kau sentuh tangan, dan terukur lelaku kaki sepanjang usia membungkus badan. Sampai batang mebujur ke utara, jangan pernah kau cungkil kerikil dan butir-butir tanah retak yang masuk dalam lubang matamu. Sebab itu akan menjadi punggung kudamu di saat padang terbuka dan langit merendah di atas kepala. Kuda yang akan mengantarmu ke ruang paling depan, atau ke jurang paling malam di belakang bayang-bayangmu yang menghitam.

2011

DUGONG MERAH

Besar dalam laut, menyusu kabut di wilayah-wilayah tak pernah disebut. Penyisir perairan di laut-laut dalam sedalam dendam dan ingatan yang pernah kau gali dalam diri. Waktu di moncong yang pipih, mengancam bagai hantu bersama badai dan gelombang malang yang melemparkannya ke laut entah. Atau tersasar ke pesisir sebelah dan menjadi tontonan di pinggir siring sampai sore miring. Tubuh yang licin, perempuan-perempuan yang mencuci wajahnya selalu, memanjakan kulit di ruang berpendingin dan beku.kenyal daging yang selalu mengingatkan kepada para pekerja yang kuat otot dan kelaminnya. Perempuan yang menyusui anaknya sambil berhitung mengirit belanja di dapur yang langitnya kelam. Separuh perempuan yang berambut panjang dengan dada menyembul ke dua sisi. Sirip yang siagap dikibaskan. Senyum mengintai dari sudut mata yang lancip di pojojk kolam yang ungu. Dada-dada yang menyedot mata lelaki tak berpaling. Mata kucing malam yang mengintai amis ikan di gelap sudut ruangan. “Pelacur!!!: umpatmu sembari melempar batu ke dahinya. Dikibasnya ekor dengan dengus sesak. Ia rangkul anak-anaknya yang merah menerabas kekelaman limbung laut perih. Di sebentang layar, suatu sore, di sebuah ruang tiga ekor dugong meloncat dari kedalaman perairan percik air membuyarkan kantuk yang tersangkut di antara jarum jam melompati siang.

2011

Jumat, April 01, 2011

KERBAU BIRU

Kerbau itu datang lagi memasuki jalan di depan rumahku. Kulitnya biru dengan bedakan lumpur di sekujur punggungnya. Bibirnya merah mengendus setiap batang bebunga yang tumbuh di depan pagar. Ia menciumi baju istriku yang baru dibeli dipasar anoom. Tidak mahal, namun pantas dikenakan dengan mikup tipis yang disapukan di sore itu. Kerbau itu mengenduskan congornya pada undakan lantai dan ke ruang tamu. Orang-orang datang bergerombol di depan pintu. Kerbau itu bercermin mencocok-cocokkan wajahnya dengan orang-orang yang ada di depan cermin. Gincunya merah dan dari matanya yang bulat dengan lentik bulu menekuk ombak sungai memasuki kamar tidurku, dan mencari-cari celana dan baju yang kupakai. Celana yang aku jemur di sisi samping rumah. Kerbau itu masuk ke dapur mencicipi masakan istriku yang pada hari itu menyembelih kakap merah yang dipamnggang di atas kompor yang panas. Kakap yang mengingatkan pada para pencuri berdasi necis yang bermanis-manis di layar televisi. Kakap yang berminyak kekuningan dan aroma yang mebangkitkan gairahku untuk menyantapnya, daging yang berasap.Kerbau itu mendengkur, tersenyum dan kemudian menangis sesenggukan. Tangis yang mengingatkan para istri wanita-wanita yang ekhilangan kekasih yang dicinta dan diselingkuhinya, yang kehilangan kemaluannya dan bersolek di depan layar, menjadi bintang baru yang selalu berganti baju saat dikejar para pemburu. Malam itu, kerbau itu memasuki tidurku, membentangkan dadanya yang penuh duri dan ari-ari.
2011