Translate

Minggu, April 10, 2011

HIJAU JAMBU

Seumpama apa aku uraikan cintaku kepada kamu ,kekasihku. Seperti hijau jambu yang merekah, cintaku memerah dan berkah. Seumpama apa aku tuliskan kesetian janjiku kepada kamu, kekasihku. Seperti hujan pertama yang menggoresi batu-batu aromanya membangkitkan memori musim tanam yang telah lama dinantikan. Seumpama apa aku tunaikan cintaku yang tulus kepada kamu, kekasihku. Seperti biji pada bumi basah, mengecambahkan akar yang kuat ke kedalaman dan meninggikan batang ke ketinggian.

Di gembung pentil yang memutih serombongan semut hitam menyusu gula-gulaku. Semut-semut kecil yang bernasib kecil dan sekali tiup akan bergelimpangan. Sekali sergap akan kelimpungan. Sekali gepuk geleparkan kematian. Tapi aku jambu air yang membiarkan binatang mungil sembunyi di balik kelopak dan bulu yang hitam. Karenanya maka, tuan dapat memastikan bahwa manis yang aku kandung hanya untuk persembahan bagi tuan tersayang.

Di batang yang kehitaman aku kekalkan waktu yang kian senja. Di tulang-tulangku yang tak berguna hanya tungku yang menunggu. Menunggu pembakaran berras anyi di atas tungku yang biru. Beras yang akan menjadi gumpalan-gumpalan cahaya. Gumpalan yang akan meledakkan perut malam.

2011

Jumat, April 08, 2011

SAPI

Sepasang kekasih yang pelan melangkah menuju gerbang. Satu jantan satu betina dengan hati berbunga-bunga. Pakaian kebesaran dengan warna keemasan. Raja dan ratu. Para undangan dengan pakaian paling istimewa merah dan hitam, sarungkotak dan peci hitam. Udeng batik dan gombor hitam yang memanjang sepanjang jalan. Tabuhan jantung ini, lagak tabuhan musik pengiring yang membuka dada dan hati. Dada yang merah dengan gelambir puting merekah. Dada yang merah dengan bentangan hati berlimpah. Laki dan perempuan menghiring jalan dengan jarik dan lengan tersingsing. Binggel yang berdesing. Gemrincing waktu dan bahagia. Gemerincing doa dan sapa. Pada bulat telur mata hitam, kau tangkap makna malam. Saat batangan angin dan untaian dingin memeluk malang. Tanah-tanah tandus berbatu, namun bukan kerasnya hati. Kau bajak tanah-tanah kajal. Tanah tempat harapan dan kepastian mengeram. Kau bajak bongkolan hati yang kaku. Menjadi sawah-sawah basah oleh air mata. Di kemerahan kulitmu, aku kenang prasasti itu, saat mereka tawar-menawar, namun tak pernah bersetuju. Lelaki yang mengingkari dan kehilangan akal di sepanjang jalan-jalan yang terjal.

Ada jejak kekuningan menuju gerbang di hadapan cermin yang selalu mengikuti bayang-bayangmu. Sepasang kekasih yang anggun melangkah menuju pintu. Pintu yang ditunggu para pemuja dan kerabat keluarga. Doa jantan dan betina lebur di tengah arena. Bunting angin dan matahari berpendaran memberikan selamat. Tanah-tanah tegal mengirimkan aroma musim kering, dan batubatu memantulkan keringatnya yang hitam. Membuka ladang baru. Ladang yang ditumbuhi ubi dan sulur kembang sore. Kebun tempat gembala melepaskan sapi-sapinya. Sapi yang menjadi belahan jiwa. Sapi yang menabung nasibnya. Sapi yang menabung matinya. Tukang jagal. Orang yang berbahagia ketika tubuhmu rubuh miring ke arah barat. Arah matahari berkarat. Matahari meneteskan sungai. Sungai merah. Dan berpasang-pasang sapi berkubang memutar dari gelap malam. Dan dari telinga bulan yang berjatuhan di atas permukaan air, sayup terdengar suara udara, batu-batu dan cahara, suara –suara yang menumbuhkan rerumputan, menumbuhkan mata air. Menumbuhkan sungai-sungai yang memanjang. Sungai yang memanjat ke undakan bianglala antara mata langit dan belahan dada. Sibakan yang nganga dan terbuka.

2011.


TEH

Secoklat tubuhmu, rasa dibentang seluruh ruang. Dari daun-daun pilihan yang dikeringkan dari bukit-bukit sintal yang menyodorkan dada dan pantatnya. Dada yang hijau oileh rerimbun matahari tempat burung mandi dan melagukan pagi. Pantat yang menyibak kabut dengan sungai-sungai kecil yang berkelok. Sungai tempat lewat sebuah dusun dan swah-sawah menghamparkan tubuh. Di matanya yang mengerling , bukit bersolek, meotong pendek rambutnya dengan anting-anting kuning dan kerudungnya menembus matahari. Mata perempuan penuh cinta, menatap tajam ke arah depan

Di daun-daun kecil, para penumpang berharap selamat menyebrangi hari-hari yang panjang dan melebar. Perempuan-perempuan yang setia selalu menggendong cinta di punggungnya. Punggung yang gunung, punggung yang hitam, punggung yang lebat oleh ranting-ranting nasib. Sumur-sumur berdatangan di dadanya, dada yang menyimpan rumah tempat singah yang membuat betah. Rumah lebah yang hexagonal tempat madu disarangkan. Anak-anak dibesarkan. “sengatlah aku!” sengat dengan rascunmu. Racun ibu. Ya..racun ibu yang menyerahkan dadanya dan hati yang berkilau. Selalu memercikkan madu. Madu rindu. Di dada yang ceruk dengan cahaya para penimba selalu berulang dengan berpikul keringat dalam gerobak menuruni bukit landai dan tanjakan. Di malam-malam keperakan, berbotol-botol ditenggelamkan penimba. Menimba bulan.

2011

CEMARA

Jarum-jarummu yang runcing memenuhi pikiran. Hijau menumbuhkan kelebatan masa silam. Gunung yang biru dan para penakluk yang bermata sipit melewati pesisir utara. Serombongan kapal layar dengan jubah kuning keemasan. Dengan pedang berkilau ditimpa cahaya timur. Serombongan perahu yang diriingi lumba-lumba dan hiu ungu. Membawa guci, uang logam, dan keramik dinasti ming, menyeberangi ketinggian samudera. Ketinggian rasa takut yang susut , dengan gadis-gadis champa yang berkulit bulan. Bukan nippon, tapi saudara yang berambut lurus dengan mata sempit dari utara.

Pada jarum matamu yang menyebari cakrawala, sekat-sekat udara berluka. Musim-musim bergelontoran menjadi sungai yang memanjang dari bukit utara ke tepiain pantai. Memberangkatkan perahu layar dengan ribuan pasukan dan si Nakhoda yang berkumis panjang. Pendatang dari utara dengan kudanya yang gempal dan bermata api. Setajam ucapan yang menaklukkan negeri-negeri jauh. Jejak kuda dengan tapak miring, sepanjang pesisir.

Musim-musim yang mematangkan stobilus jantan dan betina di ujung timur benua. Bergelimpangan di atas pasir; lombang, lombang, lombang!!! Udang-udang membungkuk jadi daun

2011

Rabu, April 06, 2011

BUKALENG

Rumah terakhir. Deretan rumah berdinding hitam di atas hamparan pebukitan. Tuan rumah yang santun, menerima para tetamu. Penjudi, penyabung, dan pengandok dara, memainkan kartu nasib dan menarik ulur layang-layang kehidupan. Para gembala melepaskan kambing dan kudanya, sambil bermain dam-daman, mengadu serangga hitam yang taringnya tebal. Engkau pelaku utama membawa sepasang dara jantan menjauhi lapangan melintasi tegal dan jurang ke arah utara. Aku yang pegang dara betina mengepakkan sayap memanggil birahi pejantan yang limbung di atas langit terbakar. Rumah terakhir. Rumah para penghuni yang santun menerima siapa saja. Kau juga. Ada nama dan alamat yang tercatat di situ. Nama yang selalu mendekat dan tak terhapus meski hujan pekat. Di tengahnya, jalan menyibak berliku ke rumahmu. Juga jalan ke mata air tempat masa kanak-kanakku menyelam dan merenangi kenakalan. Dibelukar kaktus duri, kita sembunyi menghindar dari sergapan saat main perangperangan. Kaktus berbunga merah. Darah katamu. Darah yang menyimpan merah kenangan dan nyeri perih para penghuni rumah itu. Semerah rindu yang kadang berlepasan dari undakan mata saat kau dan aku tak bisa memendam rasa haru. Rasa terkenang sesuatu pada mereka yang pulang terlebih dahulu.

Hantu. Tak ada di rumah itu. Pada malam-malam ketika menyambut kedatangan bulan yang bersih, kau dan aku meniti di tubir makam mengirimkan surat-surat yang pernah kita simpan dalam laci. Lalu kita panggil nama-nama yang sama berulang-ulang. Nama yang baik, nama yang kuat, nama yang teduh meneduhi malam dan menggetarkan bintang-bintang yang merintih di keheningan. Bintang nanggala membajak malam dari arah tenggara. Dan berguguranlah putik-putik cahaya. Pecahan yang bermuntahan dari jagad raya. Memasuki tubuh-tubuh yang nganga. Memasuki rumah-rumah yang pintu-pintunya terbuka. Menyusupi celah rumah yang pintunya terkunci petang. Rumah-rumah yang menuliskan nama-nama yang terpampang di kepala pintu. Tertulis di atas selembar batu.

2011