Rintik itu sebab hati basah
Bunga-bunga merekah
Kelopak-kelopak menadah
Doa pertapa di rumah lebah
Angin susupi kulit dingin
Ada gemetar di lubang angin
Daun-daun terpelanting ingin
Mekar mahkota di atas angin
: siapa terbang memeluk dingin
Suara kamar berdenging
Disulih lengkung lengking sumbu angin
Selasa, Juni 09, 2009
Kamis, Mei 21, 2009
BEZUK
:ruang ICU
pengunjung hanya boleh masuk satu
sandal dilepas
dan beberapa lembar peringatan di tembok yang dingin
pemacu jantung di dadamu bergaris hijau
seperti pupus harapan bersembul dari pangkal harapan
kasur beroda laci obat
dan lemari pendingin yang berat
membekukan percakapan yang terbungkus dalam plastik
nafasmu gunung penat dan laut lusuh
di meja tergelatak sepotong pisau berkilau
buah-buah yang cemberut
matamu yang surut
sungai di wajahmu yang mampat
menenggelamkan lumpur dan batu-batu pekat
bibir-bibir doa mengepung
di antara semak risau
ada doa
permintaan maaf
dan pandangan yang melambai lunglai
merindu rumah yang ditingggal
KAMIS
Dengan secangkir teh manis
Malam larut dalam percakapan
Daun-dauan yang sakit dan berguguran
Di antara keluhan tak nyaman cuaca hujan
Gorengan dalam tas membungkus tubuh kita
Yang dingin dan berair
Sebatang rokok kau nyalakan
Bau keringat pepohonan basah melunuri resah
Ada tawa dari sela-sela kegelapan
Bayang-bayang bulan di antara awan
Rasa sayang yang beratangan
Saat kau terkapar di ranjang
Di jeruk kamar yang melepuh
Di piring dingin yang membeku
Kau membanting pintu
Jumat yang menganga kembali surut dalam kamar
Rambut pagi yang basah
Suara paraumu mendesah
Di kolong yang bergumul dengan dinihari
Saat matahari meledakkan biji-nijinya
Malam larut dalam percakapan
Daun-dauan yang sakit dan berguguran
Di antara keluhan tak nyaman cuaca hujan
Gorengan dalam tas membungkus tubuh kita
Yang dingin dan berair
Sebatang rokok kau nyalakan
Bau keringat pepohonan basah melunuri resah
Ada tawa dari sela-sela kegelapan
Bayang-bayang bulan di antara awan
Rasa sayang yang beratangan
Saat kau terkapar di ranjang
Di jeruk kamar yang melepuh
Di piring dingin yang membeku
Kau membanting pintu
Jumat yang menganga kembali surut dalam kamar
Rambut pagi yang basah
Suara paraumu mendesah
Di kolong yang bergumul dengan dinihari
Saat matahari meledakkan biji-nijinya
Selasa, Mei 19, 2009
1000 HARI
; mengenang kematian rahmat mulyana
1000 hari kepergian air mata
Mengundangmu kembali di beranda
Membacakan barzanji
Dan kitab suci
Tahlil di ruag tamu
Membuka semua pintu
Di luar langit biru
Derap kaki tak bersepatu
Daun-daun menari
Garis hujan terakhir mengguyur mataku
Tak dapat melupakanmu
Doa-doa berdatangan
Di usia yang beranjak pergi
Doa-doa beterbangan
Di waktu yang menancapkan janji
1000 hari kepergian airmata
Menyusulmu kembali di beranda
Berbagi sisa riwayat dan hikayat
Dan tak sempat kucatat
Kesabaran dan tulusmu
Mematung di ruang tunggu
1000 hari kepergian air mata
Mengundangmu kembali di beranda
Membacakan barzanji
Dan kitab suci
Tahlil di ruag tamu
Membuka semua pintu
Di luar langit biru
Derap kaki tak bersepatu
Daun-daun menari
Garis hujan terakhir mengguyur mataku
Tak dapat melupakanmu
Doa-doa berdatangan
Di usia yang beranjak pergi
Doa-doa beterbangan
Di waktu yang menancapkan janji
1000 hari kepergian airmata
Menyusulmu kembali di beranda
Berbagi sisa riwayat dan hikayat
Dan tak sempat kucatat
Kesabaran dan tulusmu
Mematung di ruang tunggu
Minggu, Mei 17, 2009
PAGI BERNYANYI
Dari sebuah radio usang
Penyanyi itu melagukan pagi
Mengecup kening matahari
Merah tanah merah pipi
Barangkali ini pertama gairah pecah
Dari dingin yang berbuncah
Gemetar kamar melenguh
Di antara nafas kabut
Ada senyum di bibir pintu
Tempat kita menyilangkan rindu
Meumbuhkan bunga-bunga kemuning
Bermekaran di kening
Penyanyi itu melagukan pagi
Mengecup kening matahari
Merah tanah merah pipi
Barangkali ini pertama gairah pecah
Dari dingin yang berbuncah
Gemetar kamar melenguh
Di antara nafas kabut
Ada senyum di bibir pintu
Tempat kita menyilangkan rindu
Meumbuhkan bunga-bunga kemuning
Bermekaran di kening
Selasa, April 28, 2009
DETIK-DETIK MENGHADAPI UJIAN
(1)
Pelajaran pertama yang diterimanya adalah perploncoan yang dilakukan kakak-kakak kelasnya. Konon katanya untuk membangun mental
dan menambah keakraban. Namun yang tumbuh kadang rasa dendam
dan keinginan untuk baku hantam
(2)
Sebuah buku dengan harga tertera
Sebuah kewajiban baru tuk dibaca
Lembaran kerja siswa
Dan jadwal baru untuk mengikuti
Pelajaran tambahan di sore atau malam hari
(3)
Beginilah gambaran pertanyaan-pertanyaan
Yang ditanyakan malaikat dalam kuburan
Tegang menakutkan khawatir lupa jawaban
Yang telah dihapalkan
(4)
Ada yang menangis ketika melihat penjaga yang menakutkan
Mereka dengan ketat diawasi sehingga harus bekerja sendiri
Begini rupanya menghadapi pertanyaan di hari akhir
Tak bisa minta bantuan orang lain
(5)
Seperti apakah rasa bahagia setelah mengikuti ujian
Seperti lulus ujian nasional yang dirasakan anak-anak sekolahan
Melebihi itu kebahagiaan setelah penghisaban
Setelah seluruh perbuatan memberikan kesaksian
Pelajaran pertama yang diterimanya adalah perploncoan yang dilakukan kakak-kakak kelasnya. Konon katanya untuk membangun mental
dan menambah keakraban. Namun yang tumbuh kadang rasa dendam
dan keinginan untuk baku hantam
(2)
Sebuah buku dengan harga tertera
Sebuah kewajiban baru tuk dibaca
Lembaran kerja siswa
Dan jadwal baru untuk mengikuti
Pelajaran tambahan di sore atau malam hari
(3)
Beginilah gambaran pertanyaan-pertanyaan
Yang ditanyakan malaikat dalam kuburan
Tegang menakutkan khawatir lupa jawaban
Yang telah dihapalkan
(4)
Ada yang menangis ketika melihat penjaga yang menakutkan
Mereka dengan ketat diawasi sehingga harus bekerja sendiri
Begini rupanya menghadapi pertanyaan di hari akhir
Tak bisa minta bantuan orang lain
(5)
Seperti apakah rasa bahagia setelah mengikuti ujian
Seperti lulus ujian nasional yang dirasakan anak-anak sekolahan
Melebihi itu kebahagiaan setelah penghisaban
Setelah seluruh perbuatan memberikan kesaksian
Senin, Maret 23, 2009
ANDAI
Bayangkan seandainya yang berdiri di depan kelas bukan guru
Tetapi murid yang hanya belajar dan mengajarkan satu mata pelajaran
Sementara guru duduk di bangku murid dengan menelan 16 mata pelajaran
Siapakah yang akan lebih pintar?
Bayangkan seandainya yang mengikuti remedial berulang bukan murid
Tetapi guru yang mengajarkan dan senang jika banyak murid yang tak mengerti pelajaran
Bayangkan jika yang diolok-olok bodoh dan tidak pintar aalah guru yang selalu mengulang-ulang pelajaran tanpa merevisi dengan perubahan-perubahan pengetahuan yang terus berkembang. Betahkah dia dalam ruangan?
Tetapi murid yang hanya belajar dan mengajarkan satu mata pelajaran
Sementara guru duduk di bangku murid dengan menelan 16 mata pelajaran
Siapakah yang akan lebih pintar?
Bayangkan seandainya yang mengikuti remedial berulang bukan murid
Tetapi guru yang mengajarkan dan senang jika banyak murid yang tak mengerti pelajaran
Bayangkan jika yang diolok-olok bodoh dan tidak pintar aalah guru yang selalu mengulang-ulang pelajaran tanpa merevisi dengan perubahan-perubahan pengetahuan yang terus berkembang. Betahkah dia dalam ruangan?
Langganan:
Postingan (Atom)