IRINGAN
Iringan takbir di jalanan,
mengingatkan barisan demonstran menuju balai kota.
Mereka tak sedang memuji,
tetapi tengah beraksi.
Minggu, November 07, 2010
NEGERI SEOLAH-OLAH
NEGERI SEOLAH-OLAH
Seolah-olah negeri ini kaya
namun orang miskin di pinggir sana
Seolah-olah negeri ini makmur
namun banyak TKI diekspor
Seolah-olah negeri ini berdaulat
namun batas lautan belum juga sepakat
Seolah-olah negeri ini berkuasa
namun banyak pulau disia-sia
Seolah-olah negeri ini hijau
namun banyak hutan api meranjau
Seolah-olah negeri ini santun
namun banyak kekerasan bertahun-tahun
Seolah-olah negeri ini subur
namun banyak nasib petani dikubur
Seolah-olah negeri ini sejahtera
namun banyak birokrasi jadi peminta
Seolah-olah negeri ini maju
namun pendidikan sebatas harga dan baju
Seolah-olah negeri ini puisi
namun terlalu banyak basa-basi
Seolah-olah negeri ini mati
namun hidup dalam hati
Seolah-olah negeri ini kaya
namun orang miskin di pinggir sana
Seolah-olah negeri ini makmur
namun banyak TKI diekspor
Seolah-olah negeri ini berdaulat
namun batas lautan belum juga sepakat
Seolah-olah negeri ini berkuasa
namun banyak pulau disia-sia
Seolah-olah negeri ini hijau
namun banyak hutan api meranjau
Seolah-olah negeri ini santun
namun banyak kekerasan bertahun-tahun
Seolah-olah negeri ini subur
namun banyak nasib petani dikubur
Seolah-olah negeri ini sejahtera
namun banyak birokrasi jadi peminta
Seolah-olah negeri ini maju
namun pendidikan sebatas harga dan baju
Seolah-olah negeri ini puisi
namun terlalu banyak basa-basi
Seolah-olah negeri ini mati
namun hidup dalam hati
SEPASANG PENGANTIN
SEPASANG PENGANTIN
Sepasang pengantin,
sepasang kembang kenanga dan melati
Langit biru tua warna mewangi
Sepasang pengantin,
sepasang burung.
Kicau kepodang dan jalak hutan
Saling bersahut merimbunkan hehunian
Sepasang pengantin,
sepasang jajanan, kue lemper dan kukusan.
Berbungkus daun pisang pupus,
dan segulung kertas dalam kardus
Sepasang pengantin,
sepasang hehijauan, daun muda dan jenang ketan
Gula aren dan air nira,
manis-manis dirasa
Sepasang pengantin,
sepasang sungai
memanjang membentang
meliuk menikung, ke laut terlentang.
Sepasang pengantin,
sepasang lautan; ikan, lokan,
gelombang, garam, pasiran pantai, terumbu karang,
bakauan dan akar bahar.
Sepasang pengantin,
sebatang garam.
Percik berkilau,
asin ditelan
perih diderau.
Sepasang pengantin,
sepasang ikan terbang di atas perairan
di bawahnya bayang-bayang menghitam
beretakan.
Sepasang pengantin,
bayang-bayang hitam di kamar,
saling berangkulan menyalakan lampu bohlam,
semalaman.
Sepasang pengantin,
sepasang lampu pijar.
Bergoyang-goyang ditimpa angin berkesiur
menggetarkan sekujur
Sepasang pengantin,
sepasang angin yang bersandar
dan gurat kemerahan sekujur badan.
Sepasang pengantin
sepasang merah, bibir perempuan,
dan kudung lelaki pagi
membakar sunyi dalam diri
Sepasang pengantin,
sepasang bulan, bulan terbit dan
bulan tenggelam. Bulan datang
bulan terhalang
menunggu tangis merah kehidupan
Sepasang pengantin,
hidup dan mati
saling mendekap
saling merapat
saling mengikat
menunggu saat
Sepasang pengantin,
sepasang kembang kenanga dan melati
Langit biru tua warna mewangi
Sepasang pengantin,
sepasang burung.
Kicau kepodang dan jalak hutan
Saling bersahut merimbunkan hehunian
Sepasang pengantin,
sepasang jajanan, kue lemper dan kukusan.
Berbungkus daun pisang pupus,
dan segulung kertas dalam kardus
Sepasang pengantin,
sepasang hehijauan, daun muda dan jenang ketan
Gula aren dan air nira,
manis-manis dirasa
Sepasang pengantin,
sepasang sungai
memanjang membentang
meliuk menikung, ke laut terlentang.
Sepasang pengantin,
sepasang lautan; ikan, lokan,
gelombang, garam, pasiran pantai, terumbu karang,
bakauan dan akar bahar.
Sepasang pengantin,
sebatang garam.
Percik berkilau,
asin ditelan
perih diderau.
Sepasang pengantin,
sepasang ikan terbang di atas perairan
di bawahnya bayang-bayang menghitam
beretakan.
Sepasang pengantin,
bayang-bayang hitam di kamar,
saling berangkulan menyalakan lampu bohlam,
semalaman.
Sepasang pengantin,
sepasang lampu pijar.
Bergoyang-goyang ditimpa angin berkesiur
menggetarkan sekujur
Sepasang pengantin,
sepasang angin yang bersandar
dan gurat kemerahan sekujur badan.
Sepasang pengantin
sepasang merah, bibir perempuan,
dan kudung lelaki pagi
membakar sunyi dalam diri
Sepasang pengantin,
sepasang bulan, bulan terbit dan
bulan tenggelam. Bulan datang
bulan terhalang
menunggu tangis merah kehidupan
Sepasang pengantin,
hidup dan mati
saling mendekap
saling merapat
saling mengikat
menunggu saat
Jumat, Januari 01, 2010
MUSIM TEMBAKAU (1)
Dari lembah-lembah, wanita-wanita bersanggul kembang malam
Mengusung sungai dari tebing batu-batu
Bulan-merah terbit di antara tembikar dan gugusan bukit kabut
Mengintip retakan wajah pulau
Barisan lengan hitam memikul tanah kering, hawa panas
Dan rentengan nasib naas
Mengusung sungai dari tebing batu-batu
Bulan-merah terbit di antara tembikar dan gugusan bukit kabut
Mengintip retakan wajah pulau
Barisan lengan hitam memikul tanah kering, hawa panas
Dan rentengan nasib naas
BACA (2)
Tanda-tanda yang berbaris dari kiri ke kanan
Menggeser isi kepala dari bibir petang ke jeram cahaya kalam
Suara-suara bertubrukan dalam ruang berdinding merah;
Basmalah!
Menggeser isi kepala dari bibir petang ke jeram cahaya kalam
Suara-suara bertubrukan dalam ruang berdinding merah;
Basmalah!
USIA (1)
Tempat aku dan kau lewat
Dari liang lahir sampai lubang lahat
Diselang-seling dengung, lalu lengkung
Melintasi batas langit paling agung
Dari liang lahir sampai lubang lahat
Diselang-seling dengung, lalu lengkung
Melintasi batas langit paling agung
Selasa, Oktober 06, 2009
NIPAH
Bukan hutan tapi waduk
Membuat pikiran dan hati teraduk
Kegelisahan campur aduk
Meminta korban mati penduduk
Tak banyak yang mengenalmu
Selain kisah kera raden segara
Tanah tegal terbentang
Di antara sungai batu terlentang
Musim terik
Nasib yang mencekik
Tak banyak beri harapan
Selain rantau tanah tujuan
Banyuates
Bukan air menetes
Nama kecamatan
Tempat Nipah dipetakan
Dusun larlar , dusun talang
Dua dusun yang tiba-tiba mengerang
Tak ada yang mengenal
Tersamar di duri kanal
Di pagi yang menyengat
September 93, duapuluh lima tanggalnya
Orang-orang ketanah lapang
Beramai-ramai dengan suara lantang
Menolak pengukuiran tanah
Karena tak pernah diajak musyawarah
(rencana waduk seluas 170 hektar
Mengairi tegal 1.150 hektar
Biyanya sebesar 14 milyar)
Pagi meninggi di atas ketinggian bukit duri
Orang-orang tak takut mati
Nipah kobarkan api
Sampang mengisi berita pagi
Mutirah & Muhammad
Nindin dan Simoki
Empat orang tewas
Diterjang panas peluru petugas
Nama-nama yang tak pernah
Tercatat dalam kumal sejarah
Korban kuasa serakah
Sungai-sungai berdarah
Ulama resah
:” No comment, no comment, no comment !”
Suara kiai Alawy
Di depan kantor pulisi
Membakar layar televisi
Huru-hara kian bara
Di koran dan media massa
Merobek-robek pagi
Menikam sunyi
Langit desa berasap
Jalanan senyap
Berhari-hari berapi
Mengisi berita nagari
:”Nyo’on odhi’
Nyo’on odhi’
Nyo’on odhi’ , Pak! “
Suara-suara yang sesap
Ke liang lahat
Doa dan tangis
Menggali kubur
Tanam mayat keadilan
Di meja hijau
Orang-orang pantang menyerah
Renangi rencana
Waduk Nipah
dalam dada pasrah
Hujan air mata kian deras
Memecahi batu ketakutan yang keras
Suara baling-baling kleghidupan
Kian kencang berkerjapan
Putaran persoalan kian samar
Ditelan zaman yang memar
2009
Membuat pikiran dan hati teraduk
Kegelisahan campur aduk
Meminta korban mati penduduk
Tak banyak yang mengenalmu
Selain kisah kera raden segara
Tanah tegal terbentang
Di antara sungai batu terlentang
Musim terik
Nasib yang mencekik
Tak banyak beri harapan
Selain rantau tanah tujuan
Banyuates
Bukan air menetes
Nama kecamatan
Tempat Nipah dipetakan
Dusun larlar , dusun talang
Dua dusun yang tiba-tiba mengerang
Tak ada yang mengenal
Tersamar di duri kanal
Di pagi yang menyengat
September 93, duapuluh lima tanggalnya
Orang-orang ketanah lapang
Beramai-ramai dengan suara lantang
Menolak pengukuiran tanah
Karena tak pernah diajak musyawarah
(rencana waduk seluas 170 hektar
Mengairi tegal 1.150 hektar
Biyanya sebesar 14 milyar)
Pagi meninggi di atas ketinggian bukit duri
Orang-orang tak takut mati
Nipah kobarkan api
Sampang mengisi berita pagi
Mutirah & Muhammad
Nindin dan Simoki
Empat orang tewas
Diterjang panas peluru petugas
Nama-nama yang tak pernah
Tercatat dalam kumal sejarah
Korban kuasa serakah
Sungai-sungai berdarah
Ulama resah
:” No comment, no comment, no comment !”
Suara kiai Alawy
Di depan kantor pulisi
Membakar layar televisi
Huru-hara kian bara
Di koran dan media massa
Merobek-robek pagi
Menikam sunyi
Langit desa berasap
Jalanan senyap
Berhari-hari berapi
Mengisi berita nagari
:”Nyo’on odhi’
Nyo’on odhi’
Nyo’on odhi’ , Pak! “
Suara-suara yang sesap
Ke liang lahat
Doa dan tangis
Menggali kubur
Tanam mayat keadilan
Di meja hijau
Orang-orang pantang menyerah
Renangi rencana
Waduk Nipah
dalam dada pasrah
Hujan air mata kian deras
Memecahi batu ketakutan yang keras
Suara baling-baling kleghidupan
Kian kencang berkerjapan
Putaran persoalan kian samar
Ditelan zaman yang memar
2009
Langganan:
Postingan (Atom)