Translate

Kamis, Juli 14, 2011

DAUN 1

Angin mematahkan pegangan
Tangkai melepas lekatan
Aku berlayangan
Rebah mencium daratan

DENTANG GENTA

Dentang genta dalam jantungku
selalu berpacu dengan waktu
menggugurkan angka-angka
yang berlekatan pada usia

RIWAYAT SEBUAH PINTU

Daun yang melekat pada tiangmu,menjaga waktu,
serta lalu-lalang di situ
jalan masuk sebuah kamar jalan keluar ke halaman
celah, tempat orang-orang lewat
celah, tempat hati tertambat

Selasa, Juni 07, 2011

KELELAWAR

Mamalia hitam itu keluar dari rongga dada mencari buah cahaya yang matang di ranting malam. Kelepak sayap bersedekap di antara putikan doa yang berguguran disela dedaunan rindu. Hanya kemeresak yang terdengar dan gedebuk ranum buah berjatuhan di pungggung petang.
Bebijian berserakan tersesap tanah seresah, menunggu musim basah. Ada dengkur di antara gairah gemuruh angin di musim kering. Saat-saat dingin memekarkan kembang asam. Kembang kecut yang harus dihirup. Namun bukan itu makna hidup. Kembang yang menunggu waktu berbuah tiba dan biji-biji kembali menjatuhkan diri di haribaan bumi. Bumi yang menyimpan daging buah kesabaran. Buah yang bergelantungan di tangkai-tangkai bulan. Di kelembaban air mata, bebijian menyuburkan belantara dan butir-butir cahaya berjatuhan dari lancip umur bersama ceriv\cit mamalia menggelantung di lubang matahari.
2011

ADENIUM

Mahkota merah muda menyala, di atas junjungan kepala sang raja.
Mahkota yang ditopang batangan cuaca yang terbakar
dan guguran prajurit hijau di bawah terkam pisau cahaya.
Bila kau cium wanginya, jangan lupa mengiriminya segenggam cahaya pagi
dan sedikit airmata, sumber mata air yang akan mengambangkan bahagia.
2011

Minggu, Mei 01, 2011

LARVA

Bulu-bulu berledakan dari tubuhmu. Tubuh yang telah kehilangan keseimbangan dan terkontamninasi; sacharine, pestisida, formalin dan toksin biokimia. Butiran borax menetaskan ulat. Fungisida menjamurkan belatung. Tubuhmu meledak mencari dedaun. Memburu anghin dan memburu air. Bulu-bulu tubuh menjadi semak belukar. Menyimpan bisik-bisik, juga rencana meniadakanmu. Kupu-kupu tak lagi mencium putik madu, kehilangan norak bunga. Maka, di hijau daun-daun muda ia letakkan ratusan bom yang siap diledakkan hujan dan matahari. Bom yang menyimpan dendam juga rindu. Serindu kau tak berbagi dengan kekasih.

Serpihan tubuhmu berledakan, bulu yang berwarna kelabu di batang-batang syahwat dan hasrat. Di batang ingatan yang lupa. Di reranting usia yang sia. Bulu-bulu menjadi duri-duri. Jadi pepohon yang berderet di tepian kali dengan tangan-tangan hitam oleh kenangann yang tenggelam dalam lumpur kalimarengan. Kali yang dipenuhi rerambut gimbal Hydrilla yang merambat di antara bekas bungkus swalayan.

Serpihan bulu memenuhi jalan raya menjadi rambu-rmabu, marka jalan. Memanjati dinding rumah membentuk sketsa pemburu di dinding gua zaman batu. Memasuki lembaran-lembaran kitab yang selalu dilantunkan di deret waktu. Ia memakan abjad, tanggallah potongan ayat. Ia hisap tintanya hingga kalimat jadi senyap. Memasuki matamu, menutup pandang lalu memasuki kepompong waktu.

Tubuhmu bergelantung dengan seutas nilon menjerat leher. Dari setiap pori tubuhmu ulat-ulat bertetasan dengan cairan coklat kehitaman menggenangi ruang, memasuki gorong-gorong. Menyusuri sungai, menuju laut pasang dalam dadamu.

2011

BULAN BIRU

Hujan yang pertama jatuh adalah tubuhku di tubuhmu. Menggenangi persawahan di saat langit memerah di pipimu. Bulan mengambang dari dua matamu yang sedikit tertututp dan setengah terbuka. Genangan terus meluap jadi sungai. Jadi laut. Kita tenggelam, memanen karang dan terumbu, ikan-ikan dan semua yang bernama bahagia. Lelambai obelia dan uburubur, salam lili laut dan akar bahar. Semua penuh debar. Sebagai kerang kau dan aku mengeram. Julur-sembunyikan tubuh mengikuti irama ombak menempuh. Pantai yang kukuh. Kita bikin jukung dari kekayu diri, seberangi laut. Hujan yang pertama,

2011