Pada tubuhku yang berminyak
melebur segala sayurmayur,rempah,dan tepung gandum
Riwayat pasar yang terbakar dan ladang yang tergusur
aku ingat kembali riwayat nasib yang beredar dari musim tanam
ke musim tebang
Kamis, Oktober 13, 2011
Senin, Oktober 03, 2011
BLACK FOREST
Ladang gandum yang terbakar menerbangkan ribuan serangga di langit yang kelabu
Gugusan asap menebar aroma yang hangus berbaur letukan kembang coklat yang meleeh di kebun belakang. Panas yang membara, tanah hitam dengan luka karbondioksida. Dalam udara ruangan yang memanas di atas seratus derajat celsius. Tanah-tanah merekah siap menelan apa saja dengan aroma wangi senja.
Sepotong garpu dan sebilah pisau di genggaman siap menyayat kulit tubuh yang melepuh di meja yang angkuh. Di atas taplak bersulam bunga tropika segelas teh hangat dituangkan dan bilah pisau menyayat hamparan tubuh yang coklat kehitaman. Aroma vanila dan kacang merah meruap menusuk ingatan yang lama tenggelam di masa silam. Membuka kenangan satu poer satu, perjumpaan denganmu. Membuka kembali tanah-tanah jauh dari lereng kebun coklat yang rindang menatapi ladang gandum yang berebahan dibelai angin selatan. Di ruang tamu semua hadir kembali melompati jendela ke arah bukit itu, tempat kau dan aku pernah menyarangkan madu.
Gugusan asap menebar aroma yang hangus berbaur letukan kembang coklat yang meleeh di kebun belakang. Panas yang membara, tanah hitam dengan luka karbondioksida. Dalam udara ruangan yang memanas di atas seratus derajat celsius. Tanah-tanah merekah siap menelan apa saja dengan aroma wangi senja.
Sepotong garpu dan sebilah pisau di genggaman siap menyayat kulit tubuh yang melepuh di meja yang angkuh. Di atas taplak bersulam bunga tropika segelas teh hangat dituangkan dan bilah pisau menyayat hamparan tubuh yang coklat kehitaman. Aroma vanila dan kacang merah meruap menusuk ingatan yang lama tenggelam di masa silam. Membuka kenangan satu poer satu, perjumpaan denganmu. Membuka kembali tanah-tanah jauh dari lereng kebun coklat yang rindang menatapi ladang gandum yang berebahan dibelai angin selatan. Di ruang tamu semua hadir kembali melompati jendela ke arah bukit itu, tempat kau dan aku pernah menyarangkan madu.
Minggu, September 11, 2011
KELENGKENG
Kuning langsat kulitmu menyimpan daging tubuh ranum. Lendir gula
membasah di sekujur badan menggetah dalam lidah ingatan yang menjulur
ke belakang.Biji hitam jazadmu simpan musim yang berguguran dari
rerimbunan waktu. Buah-buah berlekatan pada tangkai di batang ketulusan
yang pernah kutanam di pematang sabar. Di hujan pertama saat mendung berderai
sambut musim semai
2011
membasah di sekujur badan menggetah dalam lidah ingatan yang menjulur
ke belakang.Biji hitam jazadmu simpan musim yang berguguran dari
rerimbunan waktu. Buah-buah berlekatan pada tangkai di batang ketulusan
yang pernah kutanam di pematang sabar. Di hujan pertama saat mendung berderai
sambut musim semai
2011
KEPITING BUTA
Gelisah laut hitam dan pantai hijau meniciumi karang.
Kepiting buta menyeret punggungnya
simpan kegelisahan yang merah. Ada aroma luka ketika aku
menyusuri bakau, tinggal desau. Akar matahari merah menembus
batu senja, semburan darah jingga di sekujur ketam bakau.
Makan malam yang pedas di ruang remang, menelan bayang
jejak dan desis lidah. Cecabang bolamatamu tertahan
seraya nahan nafas menunggu jatuhnya malam di bandaran.
2011
Kepiting buta menyeret punggungnya
simpan kegelisahan yang merah. Ada aroma luka ketika aku
menyusuri bakau, tinggal desau. Akar matahari merah menembus
batu senja, semburan darah jingga di sekujur ketam bakau.
Makan malam yang pedas di ruang remang, menelan bayang
jejak dan desis lidah. Cecabang bolamatamu tertahan
seraya nahan nafas menunggu jatuhnya malam di bandaran.
2011
IKAN LAUT
Di gempuran arus aku bertahan hidup
telan plankton hindari sergapan ikan besar
Air asin mengepung memasuki tubuh
namun tak merubah jazadku
Di debar jantung aku redam gelegak gelombang
membuatku seteguh karang
Di meja makan kita bertemu
bercakap sambil berbagi
memulangkanku ke lubuk
Lambungmu
2011
telan plankton hindari sergapan ikan besar
Air asin mengepung memasuki tubuh
namun tak merubah jazadku
Di debar jantung aku redam gelegak gelombang
membuatku seteguh karang
Di meja makan kita bertemu
bercakap sambil berbagi
memulangkanku ke lubuk
Lambungmu
2011
Kamis, Juli 14, 2011
KEMBANG MERAH
Ringkik kuda itu memekakkan malam, berderap menyusur aspal jalanan. Pekak ladam memukul pendengaran. Payung hitam di atas ribuan kepala diguyur lampu jalan, mengabadikan pasangan remaja yang tengah menabur kembang merah. Lengan sungai merngkul dingin, dan kesunyian yang hijau bersama tumpahan gerimis berjatuhan dari rambutmu. Dan dua mata mengintip dari cadar malam, menghitung guguran pedih dari atap-atap waktu yang berkarat.
Langganan:
Postingan (Atom)