Translate

Kamis, Januari 26, 2012

PEREMPUAN: RIWAYAT HUJAN DAN PETANG

Jalanan kota tergenang jatuhan air dari langit-langit malam
Tenggelamkan pujian yang melengking dari sebuah menara seusai magrib reda.
Tak ada lalulalang.Para penegndara menepi di teduhan took.
Beberapa wanita menudung paying belanja nyamuk bakar di toko terdekat.

Hanya rasa lapar tak mau peduli menerabas deras dingin dan tirai angin.
Jejarum hujan menyulam basah di celana dan kaos bagian bawah.
Endus asap,bebau tempegoreng, terasi terbakar menghanguskan ladang tomat dan kebun cabai.
Cecabang kemangi dan rerimbun daun kobis tumbuh di tepian tembikar yang becek
oleh sambal bulan yang meleleh. Melumuri petang, melumuri lapar. riwayat hujan dan petang bersama perempuan tersayang.

PANGGANG BETINA

Seonggok pahamu berkilau oleh lampu malam di tepian taman kota.
Aroma kosmetika tropika membalurisekujur badan.
Rempah yang meresapi empukan daging.
Bangkitkan gairah di antara belukar hijau sayurmayur.

Desis mulut menahan nikmat di antara cabikan dan sobekan serat petang.
Putih hangat daging silaukan mata, hujan berjatuhan dari dahi awing-awang.
Putih mulus betina kampong yang belum sempat bertelur.

Hijau belukar tersibak,
menyibak sejarah perempuan yang mahir meracik rerempah dan bumbu
hangatkan tubuh.
menidurkan para lelaki dalam mimpi dan sepi

Selasa, Januari 10, 2012

TAHUN BARU
Suara terompet melembap bersama basah hujan yang kian deras
Basahi pipi malam memanjang menyambut bulan
Ada kesal jatuh diujung jalan. Jalan menikung ke rumah petang
Percik kunang dari balik belukar selalu menerka apa yang akan datang
Derap sepatu atau bunyi peluru

Kamis, Desember 22, 2011

PENGANTAR MAYAT

1/
Inilah akhir pertemuanmu dengan teman kerabat
Kau yang beku memutar masa lalu
Saat-saat akhir ke awal kita bertemu
2/
Wajah paling mengesankan yang pernah kupandang
Kau dengan pakaian paling mapan putih kafan
Tujuh meter bersegi kekanan dan kekiri
Menggulung gelondong tubuhmu sendiri
3/
Di luar ada perjumpaan antara kawan lama
Mengurai waktu ke lalu masa
Saat-saat masih berhujan-hujanan
Sampai kerutan waktu menempel sekujur badan
4/
Ah, yang menangis berhentilah
Biar dia pergi dengan pasrah
Air matamu takkan menjagakannya
Pun takkan membahagiakannya
5/
Dia pergi sendirian membawa bayangan diri
Yang selama ini dipanggangnya di bawah matahari
Hanya sunyi, hanya sunyi, hanya sunyi
Mengantar dalam kegelapan bumi
6/
Perempuan paling cantik dan lelaki paling tampan
Biarkan aku mengenang bulan dan bintang
Yang pernah kau semat di badan
Semoga menjadi penerang dalam kegelapan
7/
Sepergimu ada yang selalu menahan rindu
Di atas pusara waktu berlamat buntu
Tangis menggemburkan kenangmu
Dan doa selalu menguatkan rasa haru
2011

Senin, Oktober 24, 2011

DURIAN MERAH

Inilah jantungku kedalaman rimba dalam diri. Hutan-hutan diam dan sunyi mengerami matahari. Darahku menyala dalam daging menerangi jalan trenggiling. Dukadan suka yang kuperam dalam tabah musim pun rebah dan rekah. Mematangkan bebijian hati yang sembunyi dan sepi. Duri-duri tahun mengerubung kau sangka, aku sombong. Betapa cuaca mengajarku ramah menerima sangkamu entah. Bunuhlah aku dalam kilau pisau hasratmu. Sebab, aku telah tuntasi sedekah tanah dan kenduri matahari. Di merah dagingku, selalu kutunggu kisahmu, kekasihmu mengelupasi kulit rindu.

TRETES

TRETES
Tebingtebing miring di antara dingin yang berduri
Pohonan melambai di sepanjang malam, jerit angin di antara lenguhan musik dangdut
Dalam merah cahaya unggun. Gunung-gunung berasap menebarkan cuaca pucat gemetar bintang-bintang meraih hutan hitam jagakan singa yang tertidur di jantung sepi. Bulan merah menjamah belukar di antara dengung kumbang menyerbuki putik bangkai. Bukit petang mengandung kutuk matahari di kelokan sungai-sungai menuju pilu. Tepat dipoucuk pagi batu-batu menggigil getarkan kelamin memuntahkan air mata

OTE-OTE

Inilah rajangan tubuhku renyah kobis dalam lumuran terigu yang dikulak dari pasar baru. Ada pedih merintih dalam cacahan kulit dan daging, adukan tangan cekatan. Mengaduk nasib dari ladang-ladang di lereng gunung dan hamparan gandum di padang jauh. Getah darahku yang bening menggantikan airmataku yang tak lagi mampu menadahi nyeri. Hanya tinggal kepasarahan yang paling dalam membaluti kulit telanjangku di atas panggangan bara api. Dalam kubangan didihan minyak sawit yang sengit. Tubuhku hangus di antara gelembung minyak yang meletup. Meletupkan gairahku untuk memasuki tubuhmu. Kemudian lenyap dan kau lupakan dalam lelap.