Translate

Minggu, Mei 20, 2012

TREMBESI


Berapa umur tuan? Hujan jatuh di halaman, mengguratkan lingkar tahun dan musim  berguguran bersama daun. Jalan menikung dan berliku di ujung. Sawah-sawah  hijau oleh cinta memandang udara yang selalu menuju ke utara. Di barat sungai melenguh sambil mengusir hujan riuh. Batang-batang trembesi menjulang menadah airmata langit yang selalu tumpah bersama sakit.

Dedaun mungil yang menuliskan cinta abadi, menguning berguguran memenuhi halaman. Ia menuliskan suara langit menjerit, udara beracun memasuki paru dunia, di antara sesak waktu kesulitan mencari rongga. Batang-batang kian hitam oleh ludah waktu yang jeram. Guratan guratan tegas  mengingatkan surat wasiat kakek yang pernah aku buka dalam sebuah laci meja. Tulisan yang mengingatkanku pada lukisan kaligrafi kaca yang ditaruh di atas pintu masuk rumah. Sebagai penjaga, katanya.

Bening oksida dan kelam karbondioksida selalu bertukar di udara, di paru hijau trembesi mengembang ke angkasa. Jemari tangannya beribu dengan bulu-bulu kemuning meniupkan angin ke selatan memberikan harapan hidup yang sebentar. Sebab, yang lama adalah keabadian. Di akar-kemakar yang menembus kedalaman hati, cecabangnya merangkul remahan diri, ia terus menjalar menyusuri hidup di antara batu nasib dan sungai haru dalam pembuluh waktu. Jika sempat bertemu terimalah seluruh rindu di antara racun dan temu. Di antara harapan yang tumbuh pada setiap jengkal jejak, yang pernah kita pijak.
2012

Sabtu, April 14, 2012

DOA UN


Wahai Yang Maha Tahu
Berikan aku mimpi malam ini
Soal dan jawaban UN yang akan diujikan esok pagi.

Rabu, Maret 28, 2012

TUAN KUDA LAUT

12.00

Tuan kuda laut, hidup dan maut
Kau lihat perempuan bercukur lelaki itu. Reruntuhan rambut waktu menumbuhi halaman rumah ibu. Bintang laut dan ubur-ubur beterbangan dari laut dalam ke matamu. Terbang dengan sayap di kedua sisi yang menutupi pandangan . Tuan tahu pemilik kebun itu? Adalah ibu yang selalu merawat dan menyemai rindu. Lautan dadanya lapang menampung semua bimbang menjadi bening di kedua matanya yang bulan.

Tuan kuda laut, karang-karang dan lumut
Memecahkan batu waktu yang menghampar di antara padang sembilu. Si karang tegar pemecah gelombang yang tak pernah tenang menampar bibir dada malang. Lelumutan berbiak di antara celah bebatu dan hati tuan. Meluruhkan bebal batu malam menjadi butiran-butiran kenangan.

Tuan kuda laut, hati kembang dan ciut
Lelaki yang menjelajahi lorong rahim dan perempuan yang menyusuri liang laut. Betapa, gelombang memukul belahan dada dan si ayah menjadi ibu bagi anak-anak silang. Dari donor sperma yang kemudian memasuki gelap rahim yang mengeram dalam bimbang. ayah dan ibu dari anak-anak yang ditumbuhkan dari huru hara dalam tubuhmu. Tuan Kuda Laut, tiga juta anakan terus merajut ibu dari ayah yang telah beku.

UBI KAYU

Batangan tubuhmu ditancap di hamparan tanah kajal tumbuhkan rindu. Hujan jarang bertemu dan angin sering membawa gering. Mengembangkan ketabahan yang bermekaran di pucuk musim kemarau. Batang-batang kasar menyimpan getah kecewa menjadi hijau dedaunan yang setia menadah butiran matahari. Butiran yang membakar dan mengenyangkan akar. Akar yang menggembung menyimpan butiran pati dan hidup menunggu musim surut.

Kembang-kembang bergoyang disapa angin selatan, badai dan hujan sering meregang. Petir pahit hidup sudah aku sembunyikan dalam biru sianida. Biru bayangan tubuhmu yang merunduk di malam-malam berbatuk. Tak ada biji, hanya umbi. Gumpalan nasib yang aku peram selama musim tak karuan. Menyelamatkan sanak dan kerabat kampung, menyerut serat kasar kehidupan dalam butiran-butiran sabar sepanjang tegalan jaman.