Translate

Jumat, Juli 11, 2008

PEREMPATAN

: toko banjir

Jalan ke utara
Arah batuampar
Pebukitan kuna
Letak kubur para aulia

Disitu ziarah bermula
Ke asta yusup
Ke pulau talango ziarahnya

Ke timur jalan kecil ke bukit babaran
Tempat tembuni trunajaya dibenam
Ke puncak lagi, kubur sitihinggil
Menatap kota yang gigil

Kenangan tersisa di taman yang selalu dibangun
Patung laki bekuda sudah tak dijumpa

Urat-urat kota saling bersilangan
Gedung-gedung dirubuhkan
Tempat belanja ditumbuhkan
Mulut selalu dikenalkan kuat makan

Penjual makan dan minum
Meramai saat sore terbenam
Bersma riuh masjid baca pujian
Dan panggilan azan

Ke barat,
Sungai membelah dada kota
Tebing kian curam
Securam duga bersarang dalam sangka

Di bibir sungai,
Hijau daun waru tak tersisa
Kota kecil yang sepi
Hari-hari terus berganti

Di terminal jalannya berlubang-lubang
Bis antar kota menunggu penumpang 10 menit saja
Tak ada yang berkesan di kepala
Hanya warna-warna batik yang menggurat tegas
Disini bermula dan bergegas
Orang-orang berangkat
Ke berbagai kota:
Besi tua, penarik beca, atau
Ke negara tetangga, meski tanpa paspor
Sebagai imigran gelap juga

Tak terlupa jika kamis malam tiba
Menara-menara menyanyikan tartil, pujian dan shalawatan
Mengekalkan kota yang tentram

Hanya sesekali saat gelombang pasang
Atau saat purnama datang di awal bulan atau saat purnama datang
; banjir bertandang
Serupa kerusuhan yang tiba-tiba meruntuhkan kota

Lalai para pemegang kuasa.

Tidak ada komentar: