Dari mata televisi orang-orang menyobek mulutnya
bertumpahan di ruang tamu
logo swalayan di dahi warna ungu
Dengan denah di coklat paha mengarah tebing meninggi
Hutan-hutan gelap dan sunyi
Mengerami telur nasib dan hari kelabu
Anak-anak berlompatan dari jendela
memegang bungkus makanan instan
Pelarian yang sangat menakjubkan
Mereka membaca nasib dari
para mentalis yang beraksi dalam studio tv
Merancang masa depan dengan lagu-lagu cinta yang seragam
Tarian jalanan melingkar di ujung terminal
Bus-bus mabuk sempoyongan
Mengantarkan para penumpang ke pusat belanja
Dalam keranjang yang terbuat dari sobekan senja
Di depan sekolahan spanduk raksasa menawarkan rasa baru
Ruang-ruang kelas yang gagu
Aku ingat ibu yang tulus mengajariku
Dari kedalaman hati yang biru
:Lalu kutuliskan gincu di pintu sekolah itu
Tato wajahku
Namun hati telah dipahat pulau beribu
Rabu, Juli 08, 2009
Sabtu, Juli 04, 2009
30 JAM DI ATAS BUS
; catatan perjalanan buat syaifuddin syarif
(1)
Sumenep menuju Jakarta
30 jam di atas kendara
Punggung gerah, mata pedih
Badan penat dihajar lelah
Di atas jembatan suramadu
Bis melaju di bawah langit biru
Jembatan yang menyulam madura dan surabaya
Tak ada gelombang jalan terentang
Dari labang sampai daerah kenjeran
Surabaya yang padat penuh bising pertokoan dan kendaraan
Membongkar kembali kubur kenangan di peti yang tenggelam
Riuh pelabuhan membayang
Hanya amis laut terkenang
(2)
Shalat jumat di gresik
Dua rakaat tanpa bisik
Rasa lapar terus mengusik
Tak membuang rasa khusuk
(3)
Sepanjang pesisir tuban
Rumah-rumah mungil bertebaran
perempuan-perempuan melambai
Memanggil masa silam
Di antara gerobak truk dan laki petualang
Disini dahulu para pejantan pernah berlabuh
Menambatkan jangkar
Di dermaga perempuan
(4)
Malam mendingin di luar udara polusi
Truk-truk besar dan bus malam saling membunyikan tuter
Jalan sesak dan tak mau terlambat
Aku terhenti di kilometer yang panjang
Seperti antrian menuju penghisaban
(5)
Selamat siang jakarta
Udara panas dan awan abu-abu
Kemacetan dimana-mana
Mobil motor melata bagai reptil berdebu
(6)
Botani Square
Aku kini datang mengunjungimu
Menanti bus pengganti yang mengalami rusak mesin
Ah... bangunan yang mengingatkan pohon besar di tengah hutan
Ditunggu jin dan wewe gombel
mengintai mereka yang kurang waspada
Barangpbarang konsumtif aneka rupa
Dipajang di etalase dan ruang kaca
Siap menerkam siapa saja
Yang tak sanggup menahan dahaga belanja
(7)
Di lembah tajur
Aku menyaksikan anak-anak bermain gokart
Dengan kecepatan 40 km perjam
Di kejauhan sana anak-anak meluncur di seutas tali
Berteriak memompa nyali
Lembah-lembah palem
Di antara keteduhan matahari yang tenggelam lebat dedaun
malam dan hujan merimbun
; di tempat terpencil dan sejauh ini
Aku hanya ingat kesendirian ditikam sepi
(8)
Hutan gringsing
selalu kuingat perempuan-perempuan muda
Penjual kelapa muda di tanjakan berliku
Menyibak pohon lelaki sepanjang jalanan
Menumbuhkan desah dan gerutu
(9)
Palakaran,
Sawah-sawah membasah
Dihujani panggilan subuh
Memulangkan masa kanak
Yang telah beranakpinak
(1)
Sumenep menuju Jakarta
30 jam di atas kendara
Punggung gerah, mata pedih
Badan penat dihajar lelah
Di atas jembatan suramadu
Bis melaju di bawah langit biru
Jembatan yang menyulam madura dan surabaya
Tak ada gelombang jalan terentang
Dari labang sampai daerah kenjeran
Surabaya yang padat penuh bising pertokoan dan kendaraan
Membongkar kembali kubur kenangan di peti yang tenggelam
Riuh pelabuhan membayang
Hanya amis laut terkenang
(2)
Shalat jumat di gresik
Dua rakaat tanpa bisik
Rasa lapar terus mengusik
Tak membuang rasa khusuk
(3)
Sepanjang pesisir tuban
Rumah-rumah mungil bertebaran
perempuan-perempuan melambai
Memanggil masa silam
Di antara gerobak truk dan laki petualang
Disini dahulu para pejantan pernah berlabuh
Menambatkan jangkar
Di dermaga perempuan
(4)
Malam mendingin di luar udara polusi
Truk-truk besar dan bus malam saling membunyikan tuter
Jalan sesak dan tak mau terlambat
Aku terhenti di kilometer yang panjang
Seperti antrian menuju penghisaban
(5)
Selamat siang jakarta
Udara panas dan awan abu-abu
Kemacetan dimana-mana
Mobil motor melata bagai reptil berdebu
(6)
Botani Square
Aku kini datang mengunjungimu
Menanti bus pengganti yang mengalami rusak mesin
Ah... bangunan yang mengingatkan pohon besar di tengah hutan
Ditunggu jin dan wewe gombel
mengintai mereka yang kurang waspada
Barangpbarang konsumtif aneka rupa
Dipajang di etalase dan ruang kaca
Siap menerkam siapa saja
Yang tak sanggup menahan dahaga belanja
(7)
Di lembah tajur
Aku menyaksikan anak-anak bermain gokart
Dengan kecepatan 40 km perjam
Di kejauhan sana anak-anak meluncur di seutas tali
Berteriak memompa nyali
Lembah-lembah palem
Di antara keteduhan matahari yang tenggelam lebat dedaun
malam dan hujan merimbun
; di tempat terpencil dan sejauh ini
Aku hanya ingat kesendirian ditikam sepi
(8)
Hutan gringsing
selalu kuingat perempuan-perempuan muda
Penjual kelapa muda di tanjakan berliku
Menyibak pohon lelaki sepanjang jalanan
Menumbuhkan desah dan gerutu
(9)
Palakaran,
Sawah-sawah membasah
Dihujani panggilan subuh
Memulangkan masa kanak
Yang telah beranakpinak
Selasa, Juni 09, 2009
HUJAN DINI
Rintik itu sebab hati basah
Bunga-bunga merekah
Kelopak-kelopak menadah
Doa pertapa di rumah lebah
Angin susupi kulit dingin
Ada gemetar di lubang angin
Daun-daun terpelanting ingin
Mekar mahkota di atas angin
: siapa terbang memeluk dingin
Suara kamar berdenging
Disulih lengkung lengking sumbu angin
Bunga-bunga merekah
Kelopak-kelopak menadah
Doa pertapa di rumah lebah
Angin susupi kulit dingin
Ada gemetar di lubang angin
Daun-daun terpelanting ingin
Mekar mahkota di atas angin
: siapa terbang memeluk dingin
Suara kamar berdenging
Disulih lengkung lengking sumbu angin
Kamis, Mei 21, 2009
BEZUK
:ruang ICU
pengunjung hanya boleh masuk satu
sandal dilepas
dan beberapa lembar peringatan di tembok yang dingin
pemacu jantung di dadamu bergaris hijau
seperti pupus harapan bersembul dari pangkal harapan
kasur beroda laci obat
dan lemari pendingin yang berat
membekukan percakapan yang terbungkus dalam plastik
nafasmu gunung penat dan laut lusuh
di meja tergelatak sepotong pisau berkilau
buah-buah yang cemberut
matamu yang surut
sungai di wajahmu yang mampat
menenggelamkan lumpur dan batu-batu pekat
bibir-bibir doa mengepung
di antara semak risau
ada doa
permintaan maaf
dan pandangan yang melambai lunglai
merindu rumah yang ditingggal
KAMIS
Dengan secangkir teh manis
Malam larut dalam percakapan
Daun-dauan yang sakit dan berguguran
Di antara keluhan tak nyaman cuaca hujan
Gorengan dalam tas membungkus tubuh kita
Yang dingin dan berair
Sebatang rokok kau nyalakan
Bau keringat pepohonan basah melunuri resah
Ada tawa dari sela-sela kegelapan
Bayang-bayang bulan di antara awan
Rasa sayang yang beratangan
Saat kau terkapar di ranjang
Di jeruk kamar yang melepuh
Di piring dingin yang membeku
Kau membanting pintu
Jumat yang menganga kembali surut dalam kamar
Rambut pagi yang basah
Suara paraumu mendesah
Di kolong yang bergumul dengan dinihari
Saat matahari meledakkan biji-nijinya
Malam larut dalam percakapan
Daun-dauan yang sakit dan berguguran
Di antara keluhan tak nyaman cuaca hujan
Gorengan dalam tas membungkus tubuh kita
Yang dingin dan berair
Sebatang rokok kau nyalakan
Bau keringat pepohonan basah melunuri resah
Ada tawa dari sela-sela kegelapan
Bayang-bayang bulan di antara awan
Rasa sayang yang beratangan
Saat kau terkapar di ranjang
Di jeruk kamar yang melepuh
Di piring dingin yang membeku
Kau membanting pintu
Jumat yang menganga kembali surut dalam kamar
Rambut pagi yang basah
Suara paraumu mendesah
Di kolong yang bergumul dengan dinihari
Saat matahari meledakkan biji-nijinya
Selasa, Mei 19, 2009
1000 HARI
; mengenang kematian rahmat mulyana
1000 hari kepergian air mata
Mengundangmu kembali di beranda
Membacakan barzanji
Dan kitab suci
Tahlil di ruag tamu
Membuka semua pintu
Di luar langit biru
Derap kaki tak bersepatu
Daun-daun menari
Garis hujan terakhir mengguyur mataku
Tak dapat melupakanmu
Doa-doa berdatangan
Di usia yang beranjak pergi
Doa-doa beterbangan
Di waktu yang menancapkan janji
1000 hari kepergian airmata
Menyusulmu kembali di beranda
Berbagi sisa riwayat dan hikayat
Dan tak sempat kucatat
Kesabaran dan tulusmu
Mematung di ruang tunggu
1000 hari kepergian air mata
Mengundangmu kembali di beranda
Membacakan barzanji
Dan kitab suci
Tahlil di ruag tamu
Membuka semua pintu
Di luar langit biru
Derap kaki tak bersepatu
Daun-daun menari
Garis hujan terakhir mengguyur mataku
Tak dapat melupakanmu
Doa-doa berdatangan
Di usia yang beranjak pergi
Doa-doa beterbangan
Di waktu yang menancapkan janji
1000 hari kepergian airmata
Menyusulmu kembali di beranda
Berbagi sisa riwayat dan hikayat
Dan tak sempat kucatat
Kesabaran dan tulusmu
Mematung di ruang tunggu
Minggu, Mei 17, 2009
PAGI BERNYANYI
Dari sebuah radio usang
Penyanyi itu melagukan pagi
Mengecup kening matahari
Merah tanah merah pipi
Barangkali ini pertama gairah pecah
Dari dingin yang berbuncah
Gemetar kamar melenguh
Di antara nafas kabut
Ada senyum di bibir pintu
Tempat kita menyilangkan rindu
Meumbuhkan bunga-bunga kemuning
Bermekaran di kening
Penyanyi itu melagukan pagi
Mengecup kening matahari
Merah tanah merah pipi
Barangkali ini pertama gairah pecah
Dari dingin yang berbuncah
Gemetar kamar melenguh
Di antara nafas kabut
Ada senyum di bibir pintu
Tempat kita menyilangkan rindu
Meumbuhkan bunga-bunga kemuning
Bermekaran di kening
Langganan:
Postingan (Atom)