Rabu, Maret 14, 2012
PETANI SRIKAYA
Sekujur matamu, bayangan gunung gersang
Saat musim mulai mendaki hujan
Perempuan-perempuan gunung tak pernah murung. Sabit di tangan selalu menyabitkan Tanya pada rerumput sunyi yang tumbuh di sela bebatu
Perempuan perkasa ditinggal lelaki mengembara
Membawa berpikul airmata di pundak waktu. Sekeranjang rerumput dan daun
di atas kepala selalu menghijaukan syukur tak terukur
Di tangannya hijau tembakau, dan sulur ubi jalar menyisir rambutnya yang ikal. Bening sumur matanya tak pernah kering mengurung angin dan gelombang miring
Terbitlah bunga di musim ketiga
Di cecabang pohon srikaya. Perempuan-perempuan tak lelah menuruni bukit
sebagai menuruni tangga bahagia dengan keranjang syukur di kepala. Mendatangi kota
Di sepanjang trotoar hotel wijaya atau di sisi gedung Bank Negara. Mereka berhitung laba, meski tak seberapa. Namun mereka tetap berbunga berbagi bahagia
2012
Senin, Maret 05, 2012
SARI JAMBU BATU
Semerah darah tubuhmu luluh dalam gelas penggiling
Lelehan selalu meneteskan pedih buat kekasih
Daging yang lepuh melapukkan segala keluh
Yang tercekat di kerongkongan.
Segelas kasih disediakan ibu saat adik terbujur gering
Di pembaringan
Merah hatii. Warna senyum ibu menyuguhkanmu di atas meja
Di ruang tamu menyambut sanak keluarga yang tiba dari luar kota
Tubuhmu basahi siang yang gerah dan mengusap haus kerongkongan
Sepanjang perjalanan
Kisah kebun-kebun di pedalaman yang kehilangan
Sebuah peristirahatan di antara belukar merah. Sungai dan danau buatan
Mengepung segala ingatan
Ingatan tentang ibu yang tak sempat aku balas budi. Namun di merah tubuhmu
ditimpa lampu senantiasa mengingatkan senyum ibu
Yang tak pernah menipu
2012
Kamis, Januari 26, 2012
ETHEK SONGKEM
Pejam matamu kilau bilah pisau
Menjalar di urat leher. Perpisahan dengan kekasih dan sanak keluarga
Tanpa linang airmata
“Beginilah nasib menjemputku. Menjemput kita. Untuk berbagi bahagia.”
kilau pisau pilihan memutus urat leher. Percikan darah hangat menderas
Di antara dengkur nafasmu yang mengucapkan salam
“Semoga engkau bahagia,” ucapmu lirih
Tak ada yang boelh melihat kepergianmu
Kekasih,saudara, dan sanak keluarga
Di kamar utara
Dalam sepanci air mendidih
Kisah kembali menguap bersama bulu-bulu yang lepas
Dan kulit terkelupas
Mengelupasi kulit waktu yang lekat di tubuh malu
Jangan ceritakan hal-hal buruk yang pernah kita teguk
Dilumurkannya hangat rerempahan
bumbu pilihan
butiran sahang dan garam
irisan bawang meluruhkan pedih
kunyit kemiri menyejukkan tubuh
aroma menyepuh
Di atas perapian
jerang air mengerang
kau menjerang bahagia
mengisap pedih dan heharum buih
rerempah mendidih
meresapi empukan daging dan belulang
tubuhpun mengembang
Di atas tikar bersama sanak dan saudara
yang datang dari seberang.
Kau bentangkan badan yang lepuh
pejam mata penuh,
menyayat bagian demi bagian
mengelupasi kisah yang tersangkut di
daging waktu.
Tulang kenangan habis tersesap
di antara rasa yang menguap
Rasa yang terus mengembara ke sawah-sawah
yang hijau oleh papadian
Di antara keriut rumpun bamboo menjalin kebersamaan
tangan berlumur lumpur bumbu
menyuapkan sobekan-sobekan daging
Cabikan-cabikan kenangan yang terus mengurai nikmat
sampai hari-hari berkeringat.
Ethek Songkem: olahan bebek dengan tubuh lengkap dilumuri bumbu pedas yang dikukus atau digoreng. Saat ini menjadi masakan yang populer dan familiar di kota Sampang.
PEREMPUAN: RIWAYAT HUJAN DAN PETANG
Jalanan kota tergenang jatuhan air dari langit-langit malam
Tenggelamkan pujian yang melengking dari sebuah menara seusai magrib reda.
Tak ada lalulalang.Para penegndara menepi di teduhan took.
Beberapa wanita menudung paying belanja nyamuk bakar di toko terdekat.
Hanya rasa lapar tak mau peduli menerabas deras dingin dan tirai angin.
Jejarum hujan menyulam basah di celana dan kaos bagian bawah.
Endus asap,bebau tempegoreng, terasi terbakar menghanguskan ladang tomat dan kebun cabai.
Cecabang kemangi dan rerimbun daun kobis tumbuh di tepian tembikar yang becek
oleh sambal bulan yang meleleh. Melumuri petang, melumuri lapar. riwayat hujan dan petang bersama perempuan tersayang.
Tenggelamkan pujian yang melengking dari sebuah menara seusai magrib reda.
Tak ada lalulalang.Para penegndara menepi di teduhan took.
Beberapa wanita menudung paying belanja nyamuk bakar di toko terdekat.
Hanya rasa lapar tak mau peduli menerabas deras dingin dan tirai angin.
Jejarum hujan menyulam basah di celana dan kaos bagian bawah.
Endus asap,bebau tempegoreng, terasi terbakar menghanguskan ladang tomat dan kebun cabai.
Cecabang kemangi dan rerimbun daun kobis tumbuh di tepian tembikar yang becek
oleh sambal bulan yang meleleh. Melumuri petang, melumuri lapar. riwayat hujan dan petang bersama perempuan tersayang.
PANGGANG BETINA
Seonggok pahamu berkilau oleh lampu malam di tepian taman kota.
Aroma kosmetika tropika membalurisekujur badan.
Rempah yang meresapi empukan daging.
Bangkitkan gairah di antara belukar hijau sayurmayur.
Desis mulut menahan nikmat di antara cabikan dan sobekan serat petang.
Putih hangat daging silaukan mata, hujan berjatuhan dari dahi awing-awang.
Putih mulus betina kampong yang belum sempat bertelur.
Hijau belukar tersibak,
menyibak sejarah perempuan yang mahir meracik rerempah dan bumbu
hangatkan tubuh.
menidurkan para lelaki dalam mimpi dan sepi
Aroma kosmetika tropika membalurisekujur badan.
Rempah yang meresapi empukan daging.
Bangkitkan gairah di antara belukar hijau sayurmayur.
Desis mulut menahan nikmat di antara cabikan dan sobekan serat petang.
Putih hangat daging silaukan mata, hujan berjatuhan dari dahi awing-awang.
Putih mulus betina kampong yang belum sempat bertelur.
Hijau belukar tersibak,
menyibak sejarah perempuan yang mahir meracik rerempah dan bumbu
hangatkan tubuh.
menidurkan para lelaki dalam mimpi dan sepi
Selasa, Januari 10, 2012
Kamis, Desember 22, 2011
PENGANTAR MAYAT
1/
Inilah akhir pertemuanmu dengan teman kerabat
Kau yang beku memutar masa lalu
Saat-saat akhir ke awal kita bertemu
2/
Wajah paling mengesankan yang pernah kupandang
Kau dengan pakaian paling mapan putih kafan
Tujuh meter bersegi kekanan dan kekiri
Menggulung gelondong tubuhmu sendiri
3/
Di luar ada perjumpaan antara kawan lama
Mengurai waktu ke lalu masa
Saat-saat masih berhujan-hujanan
Sampai kerutan waktu menempel sekujur badan
4/
Ah, yang menangis berhentilah
Biar dia pergi dengan pasrah
Air matamu takkan menjagakannya
Pun takkan membahagiakannya
5/
Dia pergi sendirian membawa bayangan diri
Yang selama ini dipanggangnya di bawah matahari
Hanya sunyi, hanya sunyi, hanya sunyi
Mengantar dalam kegelapan bumi
6/
Perempuan paling cantik dan lelaki paling tampan
Biarkan aku mengenang bulan dan bintang
Yang pernah kau semat di badan
Semoga menjadi penerang dalam kegelapan
7/
Sepergimu ada yang selalu menahan rindu
Di atas pusara waktu berlamat buntu
Tangis menggemburkan kenangmu
Dan doa selalu menguatkan rasa haru
2011
Inilah akhir pertemuanmu dengan teman kerabat
Kau yang beku memutar masa lalu
Saat-saat akhir ke awal kita bertemu
2/
Wajah paling mengesankan yang pernah kupandang
Kau dengan pakaian paling mapan putih kafan
Tujuh meter bersegi kekanan dan kekiri
Menggulung gelondong tubuhmu sendiri
3/
Di luar ada perjumpaan antara kawan lama
Mengurai waktu ke lalu masa
Saat-saat masih berhujan-hujanan
Sampai kerutan waktu menempel sekujur badan
4/
Ah, yang menangis berhentilah
Biar dia pergi dengan pasrah
Air matamu takkan menjagakannya
Pun takkan membahagiakannya
5/
Dia pergi sendirian membawa bayangan diri
Yang selama ini dipanggangnya di bawah matahari
Hanya sunyi, hanya sunyi, hanya sunyi
Mengantar dalam kegelapan bumi
6/
Perempuan paling cantik dan lelaki paling tampan
Biarkan aku mengenang bulan dan bintang
Yang pernah kau semat di badan
Semoga menjadi penerang dalam kegelapan
7/
Sepergimu ada yang selalu menahan rindu
Di atas pusara waktu berlamat buntu
Tangis menggemburkan kenangmu
Dan doa selalu menguatkan rasa haru
2011
Langganan:
Postingan (Atom)