Translate

Selasa, Desember 18, 2012

LARON





Telah kurubuhkan rumah yang kau bangun dengan angkuh. Kayu-kayu nasib telah lumat dalam laknat. Musim hujan, tanah  menangis dan langit mengamini. Saat berbiak tiba dan aku selesaikan sepasang sayap yang coklat bergambar kilang waktu yang menderu.

Telah aku tinggalkan dunia tanah basah dan kisah-kekasihmu yang rekah. Telur malam pecah di atas petarangan magrib yang temaram. Lihatlah tarian pulang di sekujur lampu-lampu yang tumbuh di matamu. Melukiskan kenangan terakhir yang sempat terekam di bibir sore.

Tubuh telanjangku kembali menyelami sela-sela waktu, sembunyi di balik batu takdir yang tersihir. Ruah-rumah gelap, dan kisah gerilya datang  tiba-tiba, mengajakku kembali menepi di tepian sunyi meremahkan batu-batu nasib yang ganjil, ke dalam tepian malam takbir.
 
Lampu-lampu di dahimu memutar isi kepala bersama guguran sayap berebahan di halaman kelam.

SEPATU MERAH




Siapa lagi yang datang, ibu. Serdadu atau para pegawai pemerintahan yang akan melakukan penggusuran. Musim sudah berganti, namun nasib kita masih tetap batu.Lumut kecewa yang hijau bertumbuhan menghancurkan bebatu asa yang pernah ditumbuhkan di halaman depan.
 

Jejak itu masih lekat di telingaku suara perempuan dan anak-anak yang kehilangan. Suara celurit menyobek malam dan teriakan menghujat dan melaknat. Di pematang barisan perempuan dan anak-anak bersama para petugas berpakaian seragamdengan senapang di tangan. Lakilaki sembunyi di kebun belakang dan menyebrang sungai untuk  menyirami dendam.dan kelak akan kembali dituai mengembalikan nyawa yang telah melayang

Di sepatu yang tertinggal di belakang rumah, aku tahu ibu bahwa ayah tak salah. Ayah hanya berbeda isi kepala dengannya. Sementara ibu, perempuan setia yang siap menyimpan segala rahasia. Seluas gunung yang menyimpan belantara dengan sungai-sungai bercabang membelah bebukitan dan menyusuri ngarai. Ada namamu disitu, nama yang ditulis dengan tinta merah dan tanda silang. Di telapaknya yang kenyal tersimpan sederet kenangan yang tergores di sepanjang jalan hidup yang lapang.

Minggu, Desember 09, 2012

KOPI SENJA



Kau janji bertemu disebuah kafe tepian kota yang menghadap senja. Kau berbagi kelakar di antara camilan dan daftar menu yang tergeletak menatapmu.

Kopi panas, telah tersedia di cangkir bergambar bunga hitam.maawar yang terbakar di atas api percintaan yang berkobar. Didih kopi menguap menjemput masa silamyang tenggelamdi balikpekat kenangan.

Membangkitkan masa kanak yang sembunyi di balik belukar,bermain perang-perangan.kau jadi pahlawan dan aku jadi buruan. Aku harus kalah, pintamu. Aku mengiyakan. Penat berkejaran kau mengajak berhujan-hujan di tepian pematang hingga kuyub seluruh kenangan

Pada teguk pertama, matamu menoleh ke kanan pada sepasang remaja yang tengah duduk bercengekrama menunggu pesanan tiba. Bibirmu tersenyum membuka masa lalu,ketika usia tumbuh dan cinta hijau di antara tatapan.

Manis tersesap di antara kenangan hangat dan persitiwa yang bertumpuk dalamampas usia.Pada butir kasar serbuk kopi yang kau teguk kau temukan pasir hidup yang sepat melekat disela gigi waktu yang menguning.

Pada teguk kedua, matamu jatuh di mataku aku menunduk pada isi cangkir yang tingal setengah. Separuh jiwa yang tertaruh di lipatan usia yang menyelimuti anak-anak yang beranjak remaja.lipatan-lipatan peristiwa yang kembali terbuka lewat kitab-kitab lama yang mengajarkan tatakrama.

REEPETISI KAMAR



Di kamar itu kau berbaring membujurkan sunyi
Sendiri. Kenangan dan kebajikanmu melukisi sepanjang
Hayatmu.

Di kamar itu, kau pergi membawa riwayat
Para pendongeng tak henti membacakan ksiahmu
Yang biru.

Di kamar itu, maut datang membawa kereta membawamu
Ke ujung jalan. Sanak dan kerabat mengantar sampai liang lahat
Pulang menunggu kereta kembali tandang.

BALING-BALING



Tubuhku mendinginkan ruang menyisihkan hampa dan angan
Desing terpuntir dan angin terpelanting mengusap wajah gerahmu

Putaran tubuhku, putaran nasib menggerakkan takdir yang mengintai di pori-pori waktu
Putaran tubuhku adalah putaran takdir tak berujung menari di antara latar waktu

Yang terburu. Nasib tampak-nasib samar di antara lengan usia terus bergerak ke celah-celah yang berbelah

LAGU UNGU



Lagu itu pernah kau nyanyikan saat ibu dan adikku menempuh perjalanan jauh
Tinggalkan kota dan kegaduhan, ladang-ladang dan perkampungan merah.

Lagumu jadi sungai mengaliri saluran kenangan yang membentang di antara
Hidup ke malam. Menumbuhkan  sawah, kicauan beburung dan serangga saling bersahut menghutankan haru