Tawa anak-anak itu
Mengikatkan rindu
Selamat sore aini
kembali aku teringat kau
ketika anak-anak mengantar matahari
layak kita tempo hari
menanti sabtu di pintu
melepas minggu melambai
dan menyambut senin gemetar
Bendera kenangan berkibar di langit usia
biru prusia. Sisik awan menulis cerita bergerak dari bilik malam
dari balik kecupan
yang terpahat di pohon pinus
di bukit yang terlihat pucuknya
karena lebat rindu menghutan
Selaput kabut mengarungi bukit
angin basah membelaimu
terbungkus jaket biru
aku mendaki
kian dekat ke puncak rindu
namun makin jauh kala kuseru
Gerimis mengiris sore
hutan mendesah basah
dingin kian terasah
kurangkul gigil kenangan
hangat igaumu
melantun lagu mariam
Radio transistor di ruang tamu
igaumu kembali mengalun di antara cuaca hujan
meratapi hutan yang kian kelam
Sore ini
air menggenang di halaman
menyulam kenangan yang lama terputus
ke sungai beratus yang kian susut
2006
Selasa, Juni 03, 2008
PASONGSONGAN
lelaki itu memeluk karang julang di balik dadanyalaut hitam kapalkapal menarik jangkar dari kepalanya
di utara nelayan pasongsonganberpose di atas gelombang meregangkan tali ototnya kayuh kemudi ke lepas laut
meninggalkan bisingpantai dan aroma berakterbakar amis pindang dan cakalang
layar dibuka angin bersorakperahu bergerak pasirpasir bukit di selatanmelambailambai.
Dan lelaki itu mengepalkan tangan di antara kakiangin yang kian kencang mengangkang
berkejaran antara hati dan gelombangAntara keberuntungan dan kemalangan ke atas lautke batas tahmitke luas takbir
lakilaki itu menembus kedalamandiantara gaduh terumbu malam dan gemuruh keikhlasan
di utara nelayan pasongsonganberpose di atas gelombang meregangkan tali ototnya kayuh kemudi ke lepas laut
meninggalkan bisingpantai dan aroma berakterbakar amis pindang dan cakalang
layar dibuka angin bersorakperahu bergerak pasirpasir bukit di selatanmelambailambai.
Dan lelaki itu mengepalkan tangan di antara kakiangin yang kian kencang mengangkang
berkejaran antara hati dan gelombangAntara keberuntungan dan kemalangan ke atas lautke batas tahmitke luas takbir
lakilaki itu menembus kedalamandiantara gaduh terumbu malam dan gemuruh keikhlasan
PAKONG
Dari lembah mereka mengusung sungai
Ke bukit-bukit hitam
harapan terketam
ngarai hijau
matahari berkilau
Ladang-ladang hijau
oleh daun tembakau
agustus menua
putih kembang
seluas pandang
Perempuan-perempuan memikul air
dari hulu air mata
menimang-nimang pantulan kelam
dari pematang
2006
Ke bukit-bukit hitam
harapan terketam
ngarai hijau
matahari berkilau
Ladang-ladang hijau
oleh daun tembakau
agustus menua
putih kembang
seluas pandang
Perempuan-perempuan memikul air
dari hulu air mata
menimang-nimang pantulan kelam
dari pematang
2006
PENERBANGAN PUKUL 07.00 PAGI
:saat bendera dikibar setengah tiang
(1)
2 ton melati ditabur di langit mekarkan mendung dengan tajuk ungu
Tahlil dan tahmit serangga menggigiti sisa daunan di tepian matamu
Tubuh berlemak beku, senyum dingin di langit pilu
Semua akan kembali sepertimu.
Asal muasal dari segala asal
Adalah datang dan kembali kepada tiada
Langit yang sama
Laut yang sama
Tanah yang sama
Kotak-kaca bergilap memantulwajahmu yang beku
Perjalanan dari tanah-pertanian, ladang pertikaian, menuju istana sangar
di antara pagar senapang dan letupan
Sungai-sungai perlahan berbisik meniti kenangan dan kelam
Sawah-sawah menuai biji-biji pedih dan hujan semalaman
Biji-biji airmata tersemai di bukit-bukit menikam langit
Dan beratus burung tumbuh dari kegelapan
Bersayap belati dan cakar dipenuhi petir dan paku
Melintasi kubur langit senja
Menggali lubang laut bertuba
Paus berlemak,
Terbang diringi panji-panji dan lencana
Menyisakan kegaduhan dan bencana
Kota-kota ngibarkan sungai dan laut
Pohon-pohon memutikkan tangis dan darah
Penerbangan paling lamban paling bahaya menutup semua bandara
Seratus kompi serangga bersengat berputar-putar di antara langit dan tanah
Di antara rasa cinta dan terpaksa antara rasa bangga dan durhaka
Mengawini seratus lembah mebuntingi seribu bukit
Dengan disaksikan tanah-tanah tak bertanda rumah-rumah tanpa jendela
Jalanan macet, armata membasahi aspalan tempat kau dan aku menjejak kasar nafasmu
Kuku yang mengelupasi ayat-ayat tanah dan tahiyat tembakau
Bersama-sama perempuan kembali menggali alamat dan nama-nama di antara lipatan kuitnya
Seratusan doa dari masjid-masjid terus bergema membangun konfigurasi di angkasa malam
Kelebatnya menyapu bintang-bintang menyusu bulan legam
Percik cahaya tak henti meletupkan meteor di antara rasa iba dan kecewa
Meluncur dari planet kelam ke mata petang berkunang-kunang
(2)
Di atas bukit menjunjung langit
Di antara rerimbun semak terasa sengit
Di antara langit menunduk dan tanah menengadah
Tubuh beku itu ditanam ke kiblat menghadap
Pulang dewa ratusan sesaji
:Tanker,
polisi,
tentara,
tanah pertanian,
tapos,
kilang minyak,
batu bara,
hutan,
bendungan,
aceh,
nipah,
pringkuning,
priok,
taman mini,
beringin,
otb.
Patok-patok yang terus bertengger di kepala tanah
jadi mahkota
jadi singgasana
Dalam tanahmu yang dalam
Dalam tubuhmu yang dalam
Dalam namamu yang dalam
Dalam tobatmu yang dalam
Dalam dalammu yang kelam
Laut kian meluas dalam dada
Tanah kian meluas dalam mata
Jalanan kian panjang ke atas tower-tower
Menyeberangi waktu di antara punggung dan perutmu
(3)
Hallo apa kabar?
3 menit lagi aku kembali dalam freetalk sehingga kita tak tergesa
Aku menembus langit bersayap
bintang-bintang beredar dalam pikiranku
Tubuhmu melayang di atas ketinggian impian dan bersalaman
serangga mengerubungimu
Tangis atau kutukan tak jelas terdengar berseliweran dalam frekuensi duka
di antara tiang bendera kehilangan warna.
Dua bandara saling bercengkerama menanti detik-detik pemberangkatan dan penurunan sepanjang jalanan tangan-tangan melambai langit dan barisan awan lambat berjalan menundukkan wajah dan menitikkan airmata
Sebuah kerinduan, tak terlalu penting memang
Namun kenangan takkan terlupakan mengukir bukit dan langit
Di tato tubuhmu kota ini lama tertidur
dengan hutan-hutan gelap
singa-singa lahap
Ini bukan mimpi, burung-burung telah hilang dari ingatan dan kisah-kisahmu terekam di dinding-dinding batu dan tanah
Menyimpan riwayat 32 tahun
Dan tak lagi muda
Lemak bergelambir dan tubuh kian krut dalam lipatan waktu
Ke lipatan tubuhmu
Sendiri
2007
(1)
2 ton melati ditabur di langit mekarkan mendung dengan tajuk ungu
Tahlil dan tahmit serangga menggigiti sisa daunan di tepian matamu
Tubuh berlemak beku, senyum dingin di langit pilu
Semua akan kembali sepertimu.
Asal muasal dari segala asal
Adalah datang dan kembali kepada tiada
Langit yang sama
Laut yang sama
Tanah yang sama
Kotak-kaca bergilap memantulwajahmu yang beku
Perjalanan dari tanah-pertanian, ladang pertikaian, menuju istana sangar
di antara pagar senapang dan letupan
Sungai-sungai perlahan berbisik meniti kenangan dan kelam
Sawah-sawah menuai biji-biji pedih dan hujan semalaman
Biji-biji airmata tersemai di bukit-bukit menikam langit
Dan beratus burung tumbuh dari kegelapan
Bersayap belati dan cakar dipenuhi petir dan paku
Melintasi kubur langit senja
Menggali lubang laut bertuba
Paus berlemak,
Terbang diringi panji-panji dan lencana
Menyisakan kegaduhan dan bencana
Kota-kota ngibarkan sungai dan laut
Pohon-pohon memutikkan tangis dan darah
Penerbangan paling lamban paling bahaya menutup semua bandara
Seratus kompi serangga bersengat berputar-putar di antara langit dan tanah
Di antara rasa cinta dan terpaksa antara rasa bangga dan durhaka
Mengawini seratus lembah mebuntingi seribu bukit
Dengan disaksikan tanah-tanah tak bertanda rumah-rumah tanpa jendela
Jalanan macet, armata membasahi aspalan tempat kau dan aku menjejak kasar nafasmu
Kuku yang mengelupasi ayat-ayat tanah dan tahiyat tembakau
Bersama-sama perempuan kembali menggali alamat dan nama-nama di antara lipatan kuitnya
Seratusan doa dari masjid-masjid terus bergema membangun konfigurasi di angkasa malam
Kelebatnya menyapu bintang-bintang menyusu bulan legam
Percik cahaya tak henti meletupkan meteor di antara rasa iba dan kecewa
Meluncur dari planet kelam ke mata petang berkunang-kunang
(2)
Di atas bukit menjunjung langit
Di antara rerimbun semak terasa sengit
Di antara langit menunduk dan tanah menengadah
Tubuh beku itu ditanam ke kiblat menghadap
Pulang dewa ratusan sesaji
:Tanker,
polisi,
tentara,
tanah pertanian,
tapos,
kilang minyak,
batu bara,
hutan,
bendungan,
aceh,
nipah,
pringkuning,
priok,
taman mini,
beringin,
otb.
Patok-patok yang terus bertengger di kepala tanah
jadi mahkota
jadi singgasana
Dalam tanahmu yang dalam
Dalam tubuhmu yang dalam
Dalam namamu yang dalam
Dalam tobatmu yang dalam
Dalam dalammu yang kelam
Laut kian meluas dalam dada
Tanah kian meluas dalam mata
Jalanan kian panjang ke atas tower-tower
Menyeberangi waktu di antara punggung dan perutmu
(3)
Hallo apa kabar?
3 menit lagi aku kembali dalam freetalk sehingga kita tak tergesa
Aku menembus langit bersayap
bintang-bintang beredar dalam pikiranku
Tubuhmu melayang di atas ketinggian impian dan bersalaman
serangga mengerubungimu
Tangis atau kutukan tak jelas terdengar berseliweran dalam frekuensi duka
di antara tiang bendera kehilangan warna.
Dua bandara saling bercengkerama menanti detik-detik pemberangkatan dan penurunan sepanjang jalanan tangan-tangan melambai langit dan barisan awan lambat berjalan menundukkan wajah dan menitikkan airmata
Sebuah kerinduan, tak terlalu penting memang
Namun kenangan takkan terlupakan mengukir bukit dan langit
Di tato tubuhmu kota ini lama tertidur
dengan hutan-hutan gelap
singa-singa lahap
Ini bukan mimpi, burung-burung telah hilang dari ingatan dan kisah-kisahmu terekam di dinding-dinding batu dan tanah
Menyimpan riwayat 32 tahun
Dan tak lagi muda
Lemak bergelambir dan tubuh kian krut dalam lipatan waktu
Ke lipatan tubuhmu
Sendiri
2007
13.30 ; 24-12-07 : minggu yang tak sempat diberitakan
(1)
Senin kau pinta aku menggantikanmu
dan aku masih terbayang kamu berdiam di kursi
tapi minggu lebih dulu ngajakmu pergi
Membawa rencana dan perjalanan
ketabahan dan kesabaran
bertumbuhan dalam kenangan
Jalanan dan hujan
mengajakmu pulang
di tikungan jalan
Hujan deras mengguyur
tepian mata
baru usai mengucap salam siang
;gerimis di langit mencatat peristiwa
Senin tak ada upacara bendera
semua berkumpul di mushalla
merangkai doa dari pagi yang duka
(2)
Seluas langit pernah kau pintal
engkau lukiskan biru sayang
Warna senyum selayang
dari getar rindu saling beradu
Menggerakkan matamu yang teduh
tempat tumpah segala keluh
Meski di pelabuhan dadamu aneka kapal
sarat beban berlabuh
(3)
Hujan terakhir
mengabadikan perbincangan kau dan aku
tentang lanjut usia orangtua kita
kau dan aku anak-anak yang mencinta
Tak sekuku bajik kita melebihi ketulusannya
Tak seundak bijak membalas luapan kasihnya
Belum usai kisah kau bagi
getar hanphone dan panggilan dea menyudahi cerita
kau pulang menembus bintang gerimis
Hujan kian deras membasahi kisah tercecer
Di beranda
Senin kau pinta aku menggantikanmu
dan aku masih terbayang kamu berdiam di kursi
tapi minggu lebih dulu ngajakmu pergi
Membawa rencana dan perjalanan
ketabahan dan kesabaran
bertumbuhan dalam kenangan
Jalanan dan hujan
mengajakmu pulang
di tikungan jalan
Hujan deras mengguyur
tepian mata
baru usai mengucap salam siang
;gerimis di langit mencatat peristiwa
Senin tak ada upacara bendera
semua berkumpul di mushalla
merangkai doa dari pagi yang duka
(2)
Seluas langit pernah kau pintal
engkau lukiskan biru sayang
Warna senyum selayang
dari getar rindu saling beradu
Menggerakkan matamu yang teduh
tempat tumpah segala keluh
Meski di pelabuhan dadamu aneka kapal
sarat beban berlabuh
(3)
Hujan terakhir
mengabadikan perbincangan kau dan aku
tentang lanjut usia orangtua kita
kau dan aku anak-anak yang mencinta
Tak sekuku bajik kita melebihi ketulusannya
Tak seundak bijak membalas luapan kasihnya
Belum usai kisah kau bagi
getar hanphone dan panggilan dea menyudahi cerita
kau pulang menembus bintang gerimis
Hujan kian deras membasahi kisah tercecer
Di beranda
RAPA
anak-anak itu mametik malam
bulan bintang kian kelam
sela-sela bukit dingin merayap
jarum jam menikam senyap
igauan televisi derum jalanan propinsi berkejaran
di larimalam yang kencang
mereka mabuk menjadi televisi
mereka berteriak menjadi angkutan pedesaan yang sesak dan berbatu
saling menyusul menuju gundah
toko-toko, jalanan, dan malam kampung
saling merapat di sabtu yang gulita
pohon-pohon bernyanyi angin memantik sunyi
dan musim kian renta mencuatkan tulang-tulangnya yang dingin
kampung ini terus berbiak
anak-anak berteriak sambil membanting suaranya di emperan toko
kian runcing membacok malammalam mati
kian nyaring menyodokkan belati
anak-anak itu lahir dari sepi di saat –saat malam bunuh diri
bulan bintang kian kelam
sela-sela bukit dingin merayap
jarum jam menikam senyap
igauan televisi derum jalanan propinsi berkejaran
di larimalam yang kencang
mereka mabuk menjadi televisi
mereka berteriak menjadi angkutan pedesaan yang sesak dan berbatu
saling menyusul menuju gundah
toko-toko, jalanan, dan malam kampung
saling merapat di sabtu yang gulita
pohon-pohon bernyanyi angin memantik sunyi
dan musim kian renta mencuatkan tulang-tulangnya yang dingin
kampung ini terus berbiak
anak-anak berteriak sambil membanting suaranya di emperan toko
kian runcing membacok malammalam mati
kian nyaring menyodokkan belati
anak-anak itu lahir dari sepi di saat –saat malam bunuh diri
SAMPANG
:geladak
Sungai berkelok
Denyarnya masih terasa
Berpuluh tahun lalu, bahkan lewat
Perahu menepi, tali tertambat.
Biru air berkaca-kaca
Rekam pejalan dan kendara
Lalulalang ke sekola, belanja dan tempat kerja.
Geladak belum tinggi, lantai rumah sejajar jalan raya.
Bibir sungai, masih hijau daun waru
:Pagi melintas.
Sepi berduri,
Suara kereta pelan merambat
Angkut penumpang ke kota terdekat.
Suaranya perlahan saja
seperti karat dilepas senja
Merontokan kenangan yang coklat dan renta
Riuh penarik becak
Mengangkut es balok
Dari gudang TKG dekat geladak
Ketipak kuda
Memutar roda pedati
jemput pulang bakul ikan dan sayuran
Magrib, toko-toko terkunci.
Tak ada jual beli pemiliknya masih ngaji
Sampai isyak menanti.
Bila kamis malam tak ada toko buka
Suara tartil, pujian, dan shalawat
Memenuhi langit berkat.
: barat
Masih sekitar jalan panglima sudirman
Dekat toko andalas yang kini lenyap,
Adzan di Kaptegghi merekati dinding ingatan.
Tak merdu suaranya
Namun selalu ingatkan waktu shalat tiba
Jalanan membujur ke ujung
Belok ke kanan lalu ke kiri
Toko mas terang, hing wan, dan toko kitab di sudut persimpangan.
Laris masih tetap menghadap selatan, kokoh berdiri dekat bangunan penjara
Sebelahnya lagi pos polisi, lalu truk melintas
Lemparkan kotak korek api kepada petugas.
Pasar srimangun, rel-rel mati ditumbuhi kios buah-buahan.
Toko damai yang muram kehilangan pelanggan.
Beralih ke supermaket, dan swalayan menjamur di mata memandang.
Sisa lahan tertutup beton dan aspalan
Rampas serapan hujan
Jika kemarau usai, warga siap menyongsong
Birahi sungai meluapi kota.
:timur
Belok ke selatan monumen kota,
Tak lagi patung laki berkuda dengan tombak digenggaman.
Tetapi julur menara, kubah mekar di ujungnya.
Di seberang, gedung smp 2 beralih jadi kantor bina marga.
Di dekatnya toko rejeki milik mieng lie, perempuan wajib lapor bulanan
ke aparat polisi, karena belum dapat status wni.
Tjip Soe kian merana,
Diapit swalayan bunga.
Di ketinggian geladak pasarpao sungai sibak punggung kota
Pagi, kabut, anak mengaji.
Saling sambut dengan cericit mamalia
Menggenggam sepi.
Air mulai keruh, simpan duka seluruh
Luka malam sembilan puluh tujuh.
Kota merah oleh amarah, peluru muntah oleh darah
:Tangisi nyawa terjarah.
Pecah kaca
Penuhi jalan raya.
Tarian asap dari gedung perkantoran
Dan gereja pantekosta di seberang utara.
Pasukan tentara
Berjagajaga
Senapan siaga
Periksa penumpang kendara dan pejalan
Masuk kota.
Kawatir bawa gaman dan senjata
Wajah dingin
Urat-uratnya berpilin
Berapa terkapar?
Siapa hilang?
Sungai,
Masih mengalir dari utara ke selatan kota
Wajahnya coklat lempung
Bayang-bayang mengapung
Samar-samar kambangan luka
Menampar wajah kita
2008
Sungai berkelok
Denyarnya masih terasa
Berpuluh tahun lalu, bahkan lewat
Perahu menepi, tali tertambat.
Biru air berkaca-kaca
Rekam pejalan dan kendara
Lalulalang ke sekola, belanja dan tempat kerja.
Geladak belum tinggi, lantai rumah sejajar jalan raya.
Bibir sungai, masih hijau daun waru
:Pagi melintas.
Sepi berduri,
Suara kereta pelan merambat
Angkut penumpang ke kota terdekat.
Suaranya perlahan saja
seperti karat dilepas senja
Merontokan kenangan yang coklat dan renta
Riuh penarik becak
Mengangkut es balok
Dari gudang TKG dekat geladak
Ketipak kuda
Memutar roda pedati
jemput pulang bakul ikan dan sayuran
Magrib, toko-toko terkunci.
Tak ada jual beli pemiliknya masih ngaji
Sampai isyak menanti.
Bila kamis malam tak ada toko buka
Suara tartil, pujian, dan shalawat
Memenuhi langit berkat.
: barat
Masih sekitar jalan panglima sudirman
Dekat toko andalas yang kini lenyap,
Adzan di Kaptegghi merekati dinding ingatan.
Tak merdu suaranya
Namun selalu ingatkan waktu shalat tiba
Jalanan membujur ke ujung
Belok ke kanan lalu ke kiri
Toko mas terang, hing wan, dan toko kitab di sudut persimpangan.
Laris masih tetap menghadap selatan, kokoh berdiri dekat bangunan penjara
Sebelahnya lagi pos polisi, lalu truk melintas
Lemparkan kotak korek api kepada petugas.
Pasar srimangun, rel-rel mati ditumbuhi kios buah-buahan.
Toko damai yang muram kehilangan pelanggan.
Beralih ke supermaket, dan swalayan menjamur di mata memandang.
Sisa lahan tertutup beton dan aspalan
Rampas serapan hujan
Jika kemarau usai, warga siap menyongsong
Birahi sungai meluapi kota.
:timur
Belok ke selatan monumen kota,
Tak lagi patung laki berkuda dengan tombak digenggaman.
Tetapi julur menara, kubah mekar di ujungnya.
Di seberang, gedung smp 2 beralih jadi kantor bina marga.
Di dekatnya toko rejeki milik mieng lie, perempuan wajib lapor bulanan
ke aparat polisi, karena belum dapat status wni.
Tjip Soe kian merana,
Diapit swalayan bunga.
Di ketinggian geladak pasarpao sungai sibak punggung kota
Pagi, kabut, anak mengaji.
Saling sambut dengan cericit mamalia
Menggenggam sepi.
Air mulai keruh, simpan duka seluruh
Luka malam sembilan puluh tujuh.
Kota merah oleh amarah, peluru muntah oleh darah
:Tangisi nyawa terjarah.
Pecah kaca
Penuhi jalan raya.
Tarian asap dari gedung perkantoran
Dan gereja pantekosta di seberang utara.
Pasukan tentara
Berjagajaga
Senapan siaga
Periksa penumpang kendara dan pejalan
Masuk kota.
Kawatir bawa gaman dan senjata
Wajah dingin
Urat-uratnya berpilin
Berapa terkapar?
Siapa hilang?
Sungai,
Masih mengalir dari utara ke selatan kota
Wajahnya coklat lempung
Bayang-bayang mengapung
Samar-samar kambangan luka
Menampar wajah kita
2008
Langganan:
Komentar (Atom)