Translate

Kamis, Desember 20, 2012

LAIL



LAIL
Dua matamu, lubang tahun yang melingkar dikeleilingi rimbun kebun dan lahan pertanian.Gunung yang bersujud di sudut dan matahari memancar dari belahan dadamu. Kota yang teduh dengan jalan-jalan berkelok menuju hutan kota dan iringan musik klasik yang menderu dari dawai angin derai nafasmu. Sungai-sungai memancar dari telapak tanganmu menuruni tebing hari dan membawa cinta ibu yang terhanyut ke sepanjang hilir dan hulu.

Dua matamu, lubang tahun yang melingkar menyimpan seribu getar dan lindu. Menyusuri urat-urat tanah dan tulang waktu. kisah-kisah mengalir dari lubang itu menjadi kisah-kisah baru di antara penat kota yang berdebu. Lubang yang menggiling hari-hari dalam gumpalan puisi. Aku baca riwayat tanah kelahiran yang menjulur mekarkan kembang kenangan yang bergelantungan di baris-baris puisimu yang menjalar dan mengular.
2012

MATA DUA PINTU



Mengapa engkau segera pergi meninggalkan siang. Belum usai ceritamu tentang gedung-gedung yang hijau dan dihuni oleh banyak keriangan. Sebuah video pembelajaran menayangkan hutan yang bergerak ke arah tiada. Sungai-sungai berkelok menuju ke kering, sawah-sawah sunyi dan sebatang orang-orangan melambaikan tangan di antara ribuan burung yang bernaynyi dari arah utara.
Telah berapa kali kau kirim menu yang sama. Segelas air mineral,nasik kotak, dan sebutir buah eruk yang bungkuk. Sakitku kambuh menyusuri lereng mata yang miring memandang kota-kota yang nungging. Wajahmu merah malu memandang biografi yang terlipat di antara bantal tidur.
Aku masih simpan pertemuan terakhir; di depan gedung kolonial bercat kelabu serta gelantung kalungmu bergambar jantung. Di Jantung siang ini deretan matahari membuka lembar –demi lembar detakan yang setia menunggu di antara gelisahmu cemburu menunggu .
Di Pintu dua matamu tertahan menunggu dentang jantung yang gelisah dalam tubuhmu. Tubuh biologi, lengan geografi, jejari fisika, dan rabukan kimia yang bertebaran di ruang belajar. Di dinding sejarah yang bergambar revolusi.
2012

Rabu, Desember 19, 2012

PALM



Kau menumbuhkan langit diatas taman yang tak terawat. Jemari tanganmu melambaikan matahari di antara lalulalang dan ruang kelas yang tengah diskusi. Tak ada segelas kopi. Keringat terus berjatuhan dari dahi pintu. Tanah masih basah sehabis hujan resah memandikan malam hitam.  Mematangkan tunas yang sembunyi di ketiak waktu. Kau masih ingat dua burung kecil tengah merajut rerumput di tudung pelepah. Rajut rumah di antara susah cuaca. Tandan bungamu bergelantung bagai lonceng waktu yang siap mengembang memanggil para pengembara.

Serabut yang menyuburkan tanahmu. Tanah pujaan tempat segala rebah dan berbuah. Bunga melati yang mungil di antara kembang sepatu  menjulurkan belalai menyburkan siang hari. Pada tubuhmu lumut dan ganggang harapa terus bertumbuh di bawah siraman 5 matahari yang tumbuh dari lubang kepalamu.

Malai berjatuhan mengingatkan janji yang tunai. Bagaimana aku ucapkan terimakasih. Jemari tanganmu benarikan matahari dan aku jadi bumi.

KUCING BIRU



Di dua matamu sungai dan laut menyatu menidurkan pagi yang basah. Pintu terbuka sebuah dunia amis kembali menyeruak dari dalam tubuh yang gosong. Aku ingat dua tanganmu dan wajahmu yang berseri menangkap isyarat dari lubang pintu. Selamat pagi, suaramu sambil menunggu matahari bergerak dari dalam rumah. Suara piring dan garpu, suara ibu yang selalu mengingatkan subuh yang teduh. Segelas kopi, telur dadar dan sepiring nasi riwayat yang selalu menguraikan cinta.

Engkau terlentang mandi matahari, dan dua matamu tenggelam dalam lautan hari yang kian pasang. Kita berlayar ke atas impian yang sempat kita tuliskan di punggung dan kita gambar di luas langit mengangkang. Cakarmu, ah mengingatkan perjumpaan di malam-malam lalu yang sendu. Merenangi bulan di antara geliat bintang yang mengambang di permukaan.

Di gelambir susumu yang bergelantung, puting nasib menggembung menyimpan susu haru dan  kantung takdir yang biru. Tiga puluh Sembilan anakmu menari-nari bergelantungan di pentil waktu melompati punggung siang dan menyelusup ke selangkang sore, dan malam pasang menabur kunang-kunang.

Selasa, Desember 18, 2012

LARON





Telah kurubuhkan rumah yang kau bangun dengan angkuh. Kayu-kayu nasib telah lumat dalam laknat. Musim hujan, tanah  menangis dan langit mengamini. Saat berbiak tiba dan aku selesaikan sepasang sayap yang coklat bergambar kilang waktu yang menderu.

Telah aku tinggalkan dunia tanah basah dan kisah-kekasihmu yang rekah. Telur malam pecah di atas petarangan magrib yang temaram. Lihatlah tarian pulang di sekujur lampu-lampu yang tumbuh di matamu. Melukiskan kenangan terakhir yang sempat terekam di bibir sore.

Tubuh telanjangku kembali menyelami sela-sela waktu, sembunyi di balik batu takdir yang tersihir. Ruah-rumah gelap, dan kisah gerilya datang  tiba-tiba, mengajakku kembali menepi di tepian sunyi meremahkan batu-batu nasib yang ganjil, ke dalam tepian malam takbir.
 
Lampu-lampu di dahimu memutar isi kepala bersama guguran sayap berebahan di halaman kelam.